Salam jumpa rekan blogger & pembaca budiman semuanya, apa kabar? How your impression in the beginning of this new year? Menyenangkan bukan? Tentunya begitu banyak pengharapan yang akan kita wujudkan sepanjang tahun ini.

Ya, saya percaya… akan selalu ada api optimisme yang menyala-nyala dan siap membakar apa saja dalam benak rekan semua. Saya yakin itu! Karena soal semangat, saya sendiri merasa sebagai manifestasi dari rekan semua. Semangat saya tidak jauh beda dan tidak akan kalah dengan rekan blogger dimanapun anda berada. Semua blogger adalah pejuang, pejuang bagi dirinya sendiri dan untuk orang lain. Karenanya semua blogger adalah refleksi manusia-manusia sukses. Blogger adalah sukses itu sendiri. Kenapa saya bisa bilang begitu?

Menulis… keberanian mengemas & menyampaikan ide, opini, pemikiran, motivasi atau apapun itu kedalam bentuk tulisan, membuat karya cipta seni & intelektual baik audio maupun visual dan lain sebagainya, yang dinikmati juga bisa diakses oleh siapa saja tidak terkecuali di belahan manapun di bumi ini dan sadar akan segala konsekuensi, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan sebagai timbal balik interpretasi publik adalah seseorang yang mempunyai self esteem & self confidence yang luar biasa.

Sekarang saya bertanya, kesuksesan seperti apa sih yang tidak anda miliki jika kita mempunyai kedua hal yang saya sebutkan itu? Saya yang paling tidak mempercayainya jika anda bilang belum mempunyai kesuksesan. Karena kedua hal tersebut adalah percikan bara yang akan menjadi api semangat yang menyala-nyala yang menjadi modal buat kita untuk meraih apa saja.  

Hanya saja mindset sukses itu seperti apa? Ada seorang mbak-mbak nih asli Menteng katanya, namanya Jennie Siat dan setelah hijrah ke Amerika Serikat dan bermukim di Kalifornia Utara namanya berubah menjadi Jenny S. Bev. Mbak Jennie ini adalah seorang e-commerce practitioner, a course designer, an online instructor, a business researcher, and a writer yang dalam bukunya berjudul “Mindset Sukses: Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial” memberikan sumbangsih pemikirannya berbagi mengenai Mindset Sukses ini.

Default state kita semua adalah sukses kata mba Jennie, bukan kegagalan. Ungkapan yang cukup dikenal dan menjadi merk dagang miliknya adalah ” Success is a mindset. It is not a journey, not a destination. It is already within you” Menurutnya, “sukses” mempunyai makna yang lebih luas dan dalam ketimbang makna populernya, yang kebanyakan berkonotasi material dan status sosial di dalam masyarakat. Dalam bukunya itu mbak Jennie sengaja memutarbalikkan salah kaprahnya pengertian arti kata “sukses” kebanyakan orang selama ini. Menurutnya jika salah mengartikan sesuatu maka dampaknya sangat besar. Jika kita salah mengartikan “sukses” maka kapan kita akan menemukannya?

Mobil bermerk, rumah megah, mempunyai pergaulan dengan orang-orang penting yang selama ini kita kejar sebenarnya bukan ukuran dari sukses namun konsekuensi atau akibat sampingan dari sukses itu sendiri. Sukses adalah berdiri sendiri katanya. Ia bersifat internal dan bisa kita jumpai saat ini juga  dalam diri kita, di dalam hati kita lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia bisa dibarengi dengan materi dan kedudukan, namun bukan sebaliknya. Yang kerap kita lihat dari luar bukan sukses itu sendiri tapi hanya akibat/konsekuensi dari sukses itu sendiri. Jika anda ingin mengetahui formula sukses yang bisa diraih hanya dengan 12 bulan saya sarankan anda untuk membaca bukunya yang luar biasa itu. Dan bila anda berkeinginan mengenal mba Jennie lebih jauh, mengetahui sepak terjang dan kiprahnya di bidang riset,  e commerce dan lain-lain termasuk pencapaian-pencapaiannya silahkan untuk jalan-jalan ke weblog/websitenya http://jenniesbev.typepad.com

Lantas apa hubungannya nih antara Mindset Success nya mba Jennie dengan A Big Collaboration nya Herdy? Begitu pastinya kan pertanyaannya. Tidak, saya tidak sedang bermaksud beradu konsep dan teori dengan mba Jennie, saya tidak percaya ekspektasi anda akan sejauh itu, karena tentu saja saya bukan tandingannya. Namun anda percaya tidak dengan satu hal bahwa sebenarnya peran terbesar dalam arti puncak pencapaian dalam hidup kita itu sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk kita tanpa terkecuali tapi Tuhan masih menggantungnya di suatu waktu, di suatu tempat dimana kita  sendiri nanti yang akan menggapainya? Tentu anda boleh tidak mempercayainya namun saya percaya, karena setiap kita adalah diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Dari kata khalifah saja sudah tersurat bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan. Hanya sayangnya tidak semua orang memiliki keberanian yang cukup, penghargaan terhadap diri yang semestinya dan kepercayaan diri yang merupakan modal utama untuk berusaha.

Hanya itu modalnya? Iya, memang cuma itu saja modal awalnya. Tapi jangan salah ada seribu macam keadaan yang bisa menjadi alasan sehingga kita tidak bisa menggapainya dan peran terbesar yang seharusnya menjadi milik kita itu tetap menggantung di sana. Hanya itu tidak perlu duit? Yah kalau memang ada lebih bagus. Tidak butuh upeti untuk memuluskan jalan? Compactor kali memuluskan jalan, he :D silahkah kalau tidak takut dosa, karena yang memberi maupun yang menerima sama-sama berdosa. Dan sama saja artinya kita sedang menyuguhkan istri dan anak perempuan kita kepada tamu kita. Lho, saya masih single tuh. Capeee deh… saya bilang!

Jika mungkin saat ini anda merasa tidak memiliki apapun untuk melakukan sesuatu, awalnya saya juga seperti itu. Wah, kok gaya tulisan saya jadi mirip-mirip gaya pelaku internet marketing sedang mempromosikan produknya ya :D Tapi sungguh memang seperti itulah kenyataannya, saya rasa pendekatan personal terhadap artikel ini akan jauh lebih efektif buat kita semua jika diri saya sendiri rela menjadi personifikasi. Sebentar, saya bingung menggambarkan bagaimana diri saya waktu dulu. Pokoknya mBregudul deh! (kolaborasi antara bandel & keras kepala dalam bahasa jawa-red).  Alhasil selepas kuliah saya bingung saat itu, sudah duit tidak punya pacar juga tak ada – rasa-rasanya seperti lirik lagu dangdut ya, lengkaplah penderitaan saya :D

Untungnya karena pembawaan saya yang mBregudul membuat saya tidak mau kalah dengan keadaan dan tidak mau menyerah. Sungguh saya adalah gambaran generasi madesu orang bilang pada waktu itu. Namun jauh dalam hati saya selalu mengatakan, ah yang benar? Tidak mungkin saya akan seperti ini terus jika saya tidak putus untuk berusaha dan mencoba. Saya pertanyakan selalu apakah benar sih sifat mBregudul nya saya itu tidak ada baik-baiknya sedikitpun? Representasinya saya kutip dari analogi yin dan yang yang di ulas oleh mba Jennie. Bahkan hal-hal yang negatif pun pasti ada positifnya, karena tidak ada setengah lingkaran “yin” yang seratus persen putih dan tidak ada lingkaran “yang” yang seluruhnya hitam. Pasti ada putih setitik di dalam hitam kelam dan ada hitam setitik di dalam putih bersih.

Dari situ akhirnya saya menemukan sisi positif dari sisi negatif. Bahwa mBregudul nya saya tidak pilih-pilih meskipun terhadap nasib. Bahwa mbregudul nya saya juga berlaku terhadap sulitnya keadaan sehingga membuat saya tidak mudah menyerah. Namun semua bermula atas keyakinan sebenarnya, atas pertanyaan saya di paragraf sebelum-sebelum ini. Anda percaya tidak terhadap satu hal? Sudah disiapkan sebuah peran yang bagus yang paling puncak oleh Tuhan atas masing-masing dari kita tanpa terkecuali. Jika kita mempercayainya, tidak akan terlalu sulit bagi kita untuk mengalahkan kekawatiran menjadi optimisme. Apalagi jika kita merasa bahwa kita tidak bodoh-bodoh amat toh kita bisa belajar dan itu tak akan pernah terlambat, lambat laun self esteem dan self confidence kita akan keluar.

Dan tentunya saat ini lah waktu yang tepat buat kita semua untuk merancang sekaligus menetapkan sebuah masterplan untuk setiap pengharapan kita di tahun ini. Apa saja yang ingin kita capai, bagaimana kita meraihnya, berapa lama waktu yang kita perlukan? Dan satu hal yang tidak boleh kita lupakan yang saya sebut A Big Collaboration – Sebuah Kerjasama Yang Besar, kita harus menyadari fitrah kita bahwa kita adalah manusia yang lemah. Jadi kita tetap membutuhkan dukungan dari Ash Shamadu (Tempat Bergantung Bagi Semua Makhluk dikutip dari Al Asmaul Husna – Red). Menjaga semangat dan berdoa mungkin itulah paduan kekuatan yang paling dasyat. Dan semoga kita akan mencapai peran terbesar itu.

Happy New Year.


Saya bukan siapa-siapa dan saat inipun belum menjadi apa-apa. Namun kabar baiknya saya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini paling tidak, if i don’t trust that… setiap kita sudah disiapkan sebuah atau lebih peran yang terbesar sebenarnya dalam kehidupan kita. Selebihnya apakah kita sudah betul-betul mempersiapkan segala sesuatunya untuk meraihnya atau tidak? We have a big determination for the winner or not?  Demikian halnya dengan karier dalam pekerjaan, segalanya belum berakhir dan berhenti sampai disini saja… meski belum menjadi siapa-siapa but at least saya sudah berani bilang, i am expert in my job, meski hanya menjadi ikan kecil namun saya memberi arti dan menjadi komunitas sebuah kolam yang besar.

Kecil Tapi Menggigit

Bagaimana agar bisa menjadi little fish but can be calculated oleh perusahaan dimana kita bekerja? Bahwa kita harus memiliki sebuah karakteristik yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebuah ciri khas yang akan membedakan kita dengan rekan kerja yang lain. Dimana orang akan langsung bisa menebak bagaimana ending setiap pekerjaan kita. Tidak selalu harus berhasil namun ada sebuah added value  yang bisa semua orang petik bilamana kita gagal. Bukan sebuah pekerjaan yang gampang untuk mengetahui siapa kita, seperti apa sih kita? Namun bukan hal yang tidak mungkin pula bagi setiap orang untuk memahaminya.

Jika Eileen Rachman & Sylvina Savitri dalam artikelnya yang berjudul “Kita Memang Beda” mengatakan kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: ”Kita beda”, maka menurut pendapat mbak-mbak tersebut, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan “value adding”-nya, sebagai manusia yang utuh.

Mungkin konsepnya akan seperti itu untuk mengetahui seperti apakah diri kita. Bisa mengatakan kita beda tentunya tidak akan terlontarkan apabila kita sendiri tidak memahami bagaimana sebenarnya diri kita. Bisa mengatakan kita beda berarti kita telah menemukan kesamaannya yakni kita sudah menemukan diri kita masing-masing seperti apa. Agar kita diperhitungkan tentunya kita harus membuat personal brand yang kuat dan beda dengan yang lainnya. Menemukan berbagai kelebihan dan mengoptimalkannya, mengetahui segala kekurangan dan meminimalisirnya. Jangan pernah untuk menghindar dari masalah, malahan jika perlu mintalah kita yang menyelesaikan jika sedang terjadi masalah. Ikan di air yang tenang tidak akan pernah lebih besar dibanding dengan ikan di arus yang deras. Jika kita menyadari bahwa setiap kita sudah disiapkan sebuah peran yang besar dan menanti kita untuk meraihnya tentunya tidak ada jalan lain kecuali dengan menghargai peran apapun yang saat ini kita miliki dan melaksanakannya dengan suka cita dan penuh tanggung jawab. Bukankah parameternya sederhana, jika kita tidak menghargai peran yang kita miliki saat ini bagaimana kita akan dipercaya untuk peran yang lebih besar lagi? Kata MD saya, kalau memang belum bisa jadi gajah, jadilah semut namun yang menggigit.

Berstrategi Untuk Meraih Peran Terbesar Kita

Berstrategi itu adalah lain dengan berpolitik. Seseorang yang berstrategi tentulah dia orang yang dewasa dan capable dibidang pekerjaannya. Sedang berpolitik tidak harus memiliki semua itu, mahir oleh kemampuan jilat menjilat saja kita sudah bisa berpolitik dan mendapatkan apa yang kita mau. Seperti itulah gambaran betapa dangkalnya seseorang yang berpolitik di kantor. Lantas seperti apakah berstrategi dan bukan berpolitik itu?

Dimanapun, entah di kolam besar ataupun kolam kecil menjadi ikan kecil adalah keasyikan tersendiri. Menjadi ikan kecil dimanapun berada adalah keleluasaan dan terbuka lebarnya kesempatan buat si ikan untuk mengembangkan diri. Namun mengembangkan diri ini tidak sama dengan membuat besar dengan cara-cara berpolitik seperti saling sikut, saling menjatuhkan, saling mencaplok sesama teman namun lebih berarti mengembangkan diri dengan belajar untuk ahli dibidangnya. Keuntungan bagi ikan kecil yang pintar tentunya mempunyai kesempatan belajar yang tidak terbatas namun bermain dengan tanggung jawab yang tidak terlalu besar. 

Berawal dari situlah sebenarnya kita sudah mulai berstrategi. Kehadiran kita sudah benar-benar dibutuhkan oleh sinergi kerja di perusahaan kita. Saatnya bagi kita untuk menunjukkan prestasi,  seperti apapun penghargaan perusahaan atas kinerja kita. Hanya saja rule of the game nya kita tidak boleh menuntut penghargaan atas kinerja kita kepada perusahaan. Karena penghargaan yang diminta sebagai timbal balik akan kehilangan nilainya. Itu bukan strategi namun dengan sengaja kita membunuh karakter yang sudah kita bangun sendiri. Diperusahaan yang besar mungkin saja prestasi yang sudah kita berikan tidak akan terlihat oleh top-top manajemen perusahaan dan lantas membuat kita melenggang kepada tanggung jawab yang lebih besar lagi. Bisa jadi karena tingginya tingkat kompetisi dan orang-orang yang berpolitik. Tidak mengapa, tidak perlu gusar. Toh kita tetap diuntungkan dengan menjadi bagian dari perusahaan besar dan nilai tawar kita menjadi tinggi. Peran paling besar yang disiapkan untuk kita kan tidak selalu berada pada perusahaan dimana kita bekerja sekarang ini? Yang penting kita sudah belajar sebanyak-banyaknya, melakukan yang terbaik dan seumpama kita ingin mencoba untuk menjadi ikan yang besar hanya tinggal cari waktu yang tepat, perusahaan yang tepat dan mencoba melamar untuk posisi dan gaji yang lebih tinggi.

Dan ending dari semua strategi adalah ketika kita bisa bernegosiasi kembali kepada perusahaan kita ketika ada perusahaan lain yang membutuhkan kita dengan posisi dan gaji yang lebih tinggi. Tidak ada salahnya kan jika sekali-sekali kita yang memberikan pilihan.

Bukankah berstrategi ternyata lebih elegant dibandingkan dengan berpolitik (kantor)?

Cat :

 

  • Kata “Berpolitik” yang dimaksud dalam artikel ini adalah “Berpolitik Kantor”, -update tgl 8/09/08-
  • Judul pertama artikel adalah “Berstrategi Beda Dengan Berpolitik” saya ganti dengan “Berstrategi Bukan Berpolitik”, -update tgl 11/09/08-

Malu dan takut karena sebuah kegagalan diakui atau tidak sudah terlalu lama mengungkung dan menjadi dinding pembatas untuk maju bagi kebanyakan orang. Cara berpikir seperti itu sebenarnyalah yang menjadikan tindakan kontra produktif makin tumbuh subur dan sangat merugikan. Kebiasaan menyimpan perasaan malu dan takut karena gagal biasanya dipicu oleh faktor internal yakni self esteem yang rendah. Hal ini semakin menjadi-jadi karena banyak dipengaruhi oleh pemahaman kebanyakan masyarakat kita yang sempit menyimpulkan  arti berusaha sehingga memandang kegagalan itu seperti layaknya sebuah dosa yang harus dihindari dan harus disembunyikan rapat-rapat. Sehingga wajar jika kebanyakan orang masih tetap menyimpan perasaan takut dan malu untuk gagal karena kekuatiran tidak akan ada tempat lagi buat dirinya. Saat ini tiba waktunya bagi kita untuk mendobraknya, cukup mendobraknya saja, tidak perlu dihancurkan. Karena tetap saja kita memerlukan perasaan takut dan malu  sebagai action controlling agar setiap tindakan kita tetap terarah dan tidak malah membahayakan.

 

Segala hal yang inspiring dan opened way of thinking yang diberikan rutin oleh atasan kepada bawahan misalnya, sebenarnya sangat efektif untuk menumbuhkan penghargaan atas diri setiap bawahannya. Akan sangat terasa perbedaannya jika hal-hal yang inspiring itu selalu diberikan oleh atasan kepada bawahan daripada yang tidak. Semangat berkompetisi dan produktivity yang tinggi juga sehat akan sangat jelas terlihat dalam kondisi ini karena siapapun tetap akan mendukung disaat siapapun mengalami kegagalan. Menyamakan persepsi atas kegagalan dan keberhasilan itu membuat siapapun percaya diri atas potensi yang dimiliki karenanya tidak ada satupun yang merasa paling baik dan lebih hebat dari lainnya karena siapapun mempunyai kemungkinan untuk berhasil dan gagal. Disinilah sebenarnya akan tumbuh kemampuan bagi siapapun untuk menyikapi kegagalan dengan ksatria dan menyikapi kesuksesan secara elegant.

Saya sempat terkesan dengan seorang relasi atas usahanya mengirimkan artikel yang inspiring buat bawahannya di setiap Senin pagi baik itu yang ditulisnya sendiri ataupun sekedar meneruskan dari artikel yang selalu disebutkan dari mana sumbernya. Suatu kali dia menuliskan tentang bagaimana melampaui keterbatasan yang dipersonifikasikan melalui kutu anjing dan kotak korek api. Dikisahkan bahwa kutu anjing sebenarnya diberi kemampuan bisa melompat  300 lebih tinggi dari tubuhnya sendiri hanya saja karena kotak korek api mengungkungnya, akhirnya dia hanya bisa melompat setinggi kotak korek api. Sekali melompat dia kebentur dinding kotak korek api, melompat lagi dia kebentur lagi, begitu seterusnya. Akhirnya dia sendiri pun terus melegitimasi bahwa hanya setinggi itulah sebenarnya saya bisa melompat dan seterusnya terstruktur pola yang salah dengan ukuran kondisi aman agar tidak terbentur dinding kotak korek api.

Dari cerita tersebut relasi saya itu hanya ingin menyampaikan maksudnya bahwa banyak sekali kotak korek api disekitar kita. Bisa jadi mungkin kotak korek api itu adalah teman kerja yang selalu bilang, “buat apa kerja keras, disiplin dan lain sebagainya toh hal itu tidak lantas membuat kita dipromosikan dan lain sebagainya“. Kemudian diceritakan juga bagaimana orang-orang sukses yang dulunya  pernah juga gagal bahkan berkali-kali gagal sampai akhirnya berhasil. Tak heran jika dia mempunyai bawahan yang revolusioner dalam arti welcome terhadap perubahan , kompetitif karena tidak lagi takut gagal dan selalu memberikan terobosan-terobosan dalam pekerjaannya.

Seorang teman yang pernah mempunyai prospek penjualan sebuah produk senilai 14 Miliar  setahun hanya untuk 1 customer pernah bercerita kepada saya. Dia berniat melakukan revolusi kecil-kecilan agar setiap orang diperusahaan dia bekerja bisa lebih menghargai proses tidak melulu hasil akhir entah itu kalah atau menang. Dia sudah buang jauh-jauh perasaan malu juga takut seumpama dia gagal. Dia hanya ingin menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang itu menghadapi dan menyikapi kegagalan ataupun kesuksesan secara elegant. Karenanya dia berniat untuk menulis secara berseri usahanya itu dari nol sampai dia sendiri tahu apakah akan gagal ataukah deal dalam prospek itu dan akan dikirimkan untuk buletin perusahaan.

Ini bukan soal kalah dan menang dia bilang. Jika soal kalah dan menang, tentunya saya tak akan mengirimkan tulisan disaat saya sendiri belum tahu apakah akan dapat atau tidak. Karena lebih gampang menuliskan keberhasilan yang sudah kita peroleh daripada sesuatu yang pure based on true story dan saya sendiri belum tahu endingnya. Jika dalam bahasan marketing ada istilah perpindahan nilai atas usaha yang dilakukan, sebenarnya itulah yang sedang ingin saya bagikan – bukan soal ending namun lebih-lebih spirit, motivasi, bagaimana menyikapi kegagalan, bagaimana seharusnya menunjukkan keberhasilan dan ajakan membuang rasa takut dan malu atas kegagalan bagi rekan-rekan. Two thumbs buat teman saya itu …

Takut dan malu jika gagal akan membuat kita pasif, membunuh kretifitas dan potensi yang kita miliki sehingga akan membuat kita tergeser dan tidak akan ada tempat lagi. Saat inilah waktunya bagi kita untuk lebih berani, karena yang lebih penting bagaimana kita menikmati prosesnya dan lupakan mengkuatirkan soal kalah dan menang. Karena seperti yang ditulis oleh salah seorang kawan sesama blogger  atas tanggapan yang diberikan blogger lain pada sebuah artikel di weblognya, “Bukankah kemenangan itu  hanya sesuatu dan bukan segalanya”:)

 

 

 

 

 


 

 

 

selamat datang!

Photo Flipbook Slideshow Maker

Google Translate

Banners


Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Arsip

my pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Statistik Blog

  • 31,957 kali dikunjungi

 

Maret 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031