You are currently browsing the monthly archive for April 2007.

Aku panggil dia Rena ….
Terkadang aku juga panggil dia si Kancil karena dia cerdik juga cantik. Rena kecil, suka sekali dipanggil si Kancil, dia selalu tersenyum, tertawa … lantas dia bilang, ” kalau Rena si Kancil Oma jadi apa uk Yan”?
“Kalau Rena si Kancil berarti Oma jadi bu Tani Ren”.

Kireina Great

“Bu Tani uk Yan?”
“Iya”, kataku.
Kemudian dia pun berlari-lari sambil berteriak kegirangan, “asyik Oma jadi bu Tani … Oma jadi bu Tani!”

    • Itu sekitar tiga tahun yang lalu, tapi sekarang nggak tau kenapa … Rena selalu complaint jika dipanggil Kancil. “Nggak ah uk Yan, Rena nggak mau dipanggil si Kancil. Rena mau dipanggil Rena aja”, katanya merajuk.
      “Kenapa Cil?”, kataku.
      “Kok kancil lagi tho uk Yan, pokoknya nggak mau, Rena kan punya nama”, jawabnya pelan tapi diplomatis.
      Glek,.. saat itu tiba-tiba aku jadi tidak bisa berkata-kata, seperti ada sesuatu yang menyumpal tenggorokanku, nggak tau kenapa keseriusannya mendadak membuatku menjadi terharu.Lama sekali aku mikir sampai akhirnya aku mampu menyimpulkan sendiri kenapa. Mungkin ini karena masalah image pikirku. Rena ogah dipanggil Kancil karena image Kancil yang diusung oleh dongeng-dongeng sebelum bobo adalah buruk. Meski pintar dan cerdik, Kancil adalah sosok yang nakal, bandel, suka mencuri dan suka memakai kecerdikannya untuk menjahili teman-temannya. Aku menjadi makin terharu, karena Rena seperti sedang bilang kepadaku …
  • “Uk Yan … Rena tidak ingin menjadi Kancil, karena Rena lebih senang menjadi Rena dan ingin menjadi diri Rena sendiri!”

Saya terima surat dua halaman dari seorang bidadari kecil. Isinya sebuah pesan, harapan dan juga konsekuensi sekaligus. Sebuah pesan karena meminta saya untuk selalu menjaga semangat kerja, gak boleh

page-12.jpg   Page 2

nakal yang mungkin jika dianalogikan kedalam bahasa orang-orang dewasa adalah bekerja yang benar, jangan ikut-ikutan korupsi mungkin begitu maksudnya dan jangan lupa sholat, katanya. Mensyukuri semua yang Tuhan karuniakan pada saya, baik itu rejeki, kesehatan juga iman.

Sebuah harapan, karena bidadari kecil itu bilang, “Uk Yan… kalau Rena udah besar, Rena disekolahke dokter ya! Rena pengin jadi dokter. Biar nanti kalau oma sakit Rena yang periksa. Janji lho Uk Yan…! Bidadari kecil itu tahu bahwa harapan adalah tidak semudah membalik telapak tangan untuk mewujudkan. Perlu perjuangan, usaha yang keras dan juga konsekuensi untuk sebuah harapan. Karenanya dia bilang, “Rena mau belajar yang rajin biar pintar”)

Berawal dari situ saya jadi mikir tentang negeri ini (walah kayak menteri aja, belum tentu menteri juga mikir tentang negeri ini, he..) Jadi inget deh apa yang pernah guru-guru bilang diwaktu sekolah dulu, jaman sekolah gak pake sepatu, huaa! Bahwa generasi muda adalah tulang punggung bangsa ini di masa mendatang. Generasi muda adalah pemimpin bangsa ini dimasa depan. Generasi muda saat ini adalah barometer seperti apa bangsa ini 10 tahun mendatang, 20 tahun kedepan… begitulah kira-kira rupa bangsa ini dimasa depan adalah seperti wajah generasi muda saat ini.

Baru-baru ini ada pra ujian nasional untuk SLTP dan SMU, surat kabar ini menulis tiga ribu sekian-sekian peserta pra ujian nasional di daerah anu tidak lulus tes, harian itu menulis polisi menangkap sekelompok pelajar yang sedang pesta shabu-shabu dan pesta sex, bla bla blaa…

Saya hanya bisa tersenyum dalam hati, bukan seneng tapi ngeri. Mampus deh! Mau jadi apa negeri ini? Mungkin anda akan jawab, yah gimana generasi muda bisa bener lha wong generasi tuanya aja lebih gak bener lagi. Guru kencing berdiri, murid tentu kencing berlari… begitulah kira-kira.

Banyak memang negeri ini mempunyai generasi muda yang pintar-pintar, punya bakat dan kreatif. Hanya saja sayang sedikit dari mereka yang mempunyai cita-cita sendiri. Sejak kecil mereka dididik untuk mewujudkan harapan orang tua mereka. Cita-cita mereka adalah cita-cita orang tuanya. Banyak generasi muda yang tidak mempunyai independensi atas apa yang menjadi keinginan mereka sendiri. Semua sudah diplot menjadi polisi, tentara, pegawai negeri, pengacara sesuai keinginan dan harapan orang tuanya masing. Bahkan yang sudah seperti itu, pintar tidak lagi menjadi jalan untuk mencapai tujuan, ada uang semua beres sudah. Semua tergantung duit juga broker (kayak makelar aja, lha emang iya. He,…) Bisa jadi itu juga karena pengalaman pribadi, orang tua polisi ingin anaknya jadi polisi karena banyak sabetan kanan kiri yang lebih besar berkali-kali lipat dibanding gaji yang negara berikan, orang tua yang pegawai negeri ingin anaknya juga jadi pegawai negeri karena bisa korupsi dan dapat upeti, dll. Di lain sisi generasi muda yang memang pintar-pintar tapi tidak mampu terpakasa tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Dan para orang tua yang kurang sukses ingin anak-anaknya sukses seperti orang sukses yang mereka tahu. Karena bisa jadi mereka tahu atau tidak tahu dari mana duit yang mereka dapat. Ironis memang….

Terus apa hubungan tulisan ini dengan surat yang bidadari kecil tulis? Saya hanya ingin memberikan perbedaan. Sudah seharusnya generasi muda itu diberikan kebebasan untuk menjadi apa yang diinginkan. Gak perlu dilarang-larang ingin menjadi apa, toh rejeki juga sudah ada yang atur. Biarkan mereka menjadi dirinya sendiri. Biar negeri ini bisa berubah. Bukan reinkarnasi generasi tua kepada generasi muda. Bukan Cuma wajah aja yang berubah tapi jiwanya masih jiwa bapaknya yang koruptor. Biar negeri ini punya pemimpin-pemimpin yang memang mempunyai tujuan-tujuan yang luhur bukan semata-mata karena takut melarat.

    Malu ya Ren, Rena aja pengin jadi dokter bukan karena pengin punya banyak duit kok ya, tapi biar nanti kalo oma sakit Rena yang periksa. Yah tentu saja orang lain yang membutuhkan pertolongan tho Ren? Biar kayak bu Dokter Evy.. ! Tetap semangat ya…. !!! Luv u Rena -:)

Adalah salah jika mengira kita sudah berjalan sangat jauh, kata teman saya sore itu. Terkadang kelelahan memang pintar mengelabui, seakan kita sudah berjalan sangat jauh, telah banyak yang kita lakukan, padahal sebenarnya kita cuma berjalan berputar-putar dalam lingkaran yang kita buat sendiri. Tidak ada yang salah dengan system, tapi jika segala permasalahan atau kendala internal sudah terlalu menyibukkan, menyita waktu atau malah membuat kita takut akan resiko bertindak salah tentu sudah tidak benar. Karena kapan lagi kita akan melesat keluar dari dalam lingkaran?

 

Bayangkan jika permasalahan atau kendala internal sudah membuat kita under pressure, bagaimana otak kita akan berkompromi untuk membuat terobosan? Bukankah agresifitas mencipta terobosan adalah harga marketer yang paling mahal? Bukan sebuah kemampuan yang terberi, diberikan atasan atau bahkan Tuhan begitu saja, tapi kemampuan yang terbentuk sedikit demi sedikit belajar dari perjalanan juga pengalaman. Lantas apa jadinya jika kemampuan itu menjadi terkebiri?

 

Jika sebelumnya sudah biasa “rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau” kita artikan sebagai penghiburan atas apa yang sudah kita berikan untuk kepuasan customer baik itu waktu, support, respon, kepekaan kita terhadap keinginan customer selalu tampak kurang dibanding kompetitor padahal kita sedang mencoba mengatakan pada diri kita sendiri bahwa yang kita lakukan sudah excellent. Sehingga dengan sengaja pikiran kita akan membentuk suatu pola yang membuat kita merasa puas lebih dini karena tentu muncul pemahaman apapun yang kita lakukan tidak akan pernah ada kata sempurna. Tapi sekarang, harus benar-benar kita artikan sebagai ancaman bahwa jangan sampai rumput tetangga menjadi lebih hijau dari penglihatan kita lebih-lebih dalam penglihatan customer.

    Yach, mungkin salah satu cara agar kita bisa secepatnya keluar dari dalam lingkaran setan itu adalah menyadari kompetisi semakin tidak ada kompromi apalagi untuk sekedar menunggu kita yang bukan mencari solusi tapi malah sibuk berkelahi yang tidak penting, mendramatisir segala situasi yang terjadi didalam lingkaran kita sendiri. Bukan yang penting kita menang karena kemenangan, kita harap tidak hanya terjadi sekali ini tapi bagaimana kita menang sehingga kita bisa menang lagi dilain kali.

selamat datang!

Photo Flipbook Slideshow Maker

Google Translate

Banners


Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Arsip

my pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Statistik Blog

  • 32,714 kali dikunjungi

 

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30