You are currently browsing the daily archive for Mei 21st, 2007.

(“Aku kasihan sama anak2 perempuan yang putus sekolah, disingkirkan dari pergaulan dan di hujat dan bahkan di cap ahli neraka karena hamil akibat “kecelakaan”, akibat ketidaktahuan pengendalikan sex, sementara anaknya di label “anak haram” (Ataghfirullah kok tega ya..?) apakah anak lain ada sertifikat halal dari MUI?” )

 

Jika tidak salah merasa (maaf jika saya terlalu sensitif) saya melihat kemarahan dalam tulisan ibu Evy. Lantas, apakah marah itu salah? Tentu saja tidak! Kita memang seharusnya marah tapi tidak kepada siapa-siapa melainkan kepada diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita sebagai orang tua, sebagai orang yang lebih dewasa, sebagai apapun kita dalam tatanan kehidupan bermasyarakat… jelas kita sudah lengah sampai kejadian ini terus berulang di depan mata kita.

Hamil di luar nikah, aborsi… sudah jadi makanan berita kita sehari-hari sedang di lain tempat seminar, acara-acara interaktif yang membahas masalah ini juga marak diselenggarakan dimana-mana. Di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di mall bahkan dalam acara arisan bapak-bapak/ibu-ibu RT. Pesertanya beraneka ragam dari pelajar, mahasiswa, orang tua dan berbagai kalangan lain yang mewakili kelompoknya. Alhasil, coba kita tengok tingkat hunian losmen-losmen kelas melati di tempat-tempat wisata pada saat libur datang, remaja-remaja semua lah yauw! Dagelan macam apa ini? He…

Sebenarnya sih membahas masalah ini cerita mati. Gak akan pernah ketemu ujung pangkalnya. Gak ada yang mau disalahkan. Semua bilang semua salah jika udah kejadian, pada saling tunjuk… piye jal? Lagipula hal ini berurusan dengan kebutuhan fitrah manusia yang jika ditahan bagaimana lantas jika disalurkan gimana juga wong masih pada ABG belum ada ikatan apa-apa, masih pada pacaran, cinta-cintaan. Repotnya ABG juga manusia jika pengin tiba-tiba datang tanpa diundang dan menuh-menuhin pikiran, hayo….? Tapi ngomong-ngomong kok jadinya saya sedang tidak kalah marah dibanding bu Dokter ini? He…

Ok deh, mungkin ada baiknya jika saya batasi permasalahan ini biar gak dipersepsikan dan melebar kemana-mana. Jadi yang saya maksud di sini adalah Free Sex yang dilakukan oleh remaja-remaja usia sekolah. Mungkin jika ada yang peduli akan hal ini boleh sumbang sarannya, ibu Evy juga boleh posting lagi yang lebih seru. Kenapa perlu saya batasi? Karena Sex Abuse ibu Evi bilang yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah jelas secara tidak langsung menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua, guru-guru dan dosen-dosen sebagai pendidik dan kita semua yang merasa lebih dewasa dari mereka. Jika setiap blogger menulis masalah ini kan rame tuh, bisa jadi refferensi bagi orang-orang yang berkompeten menangani dan pemerhati serius masalah ini. Siapa tau mas Antobilang jagonya bikin banner terus bersedia membuatkan banner “STOP FREE SEX & ABORSI, KARENA BAYI JUGA MANUSIA” untuk mengkampanyekan masalah ini agar remaja-remaja sadar akan bahaya melakukan sex bebas. ( Tapi ngomong-ngomong soal banner, kok saya bingung gimana cara pasang di blog saya yak? Dodol… dodoool! Ada yang mau kasi tau caranya gak? *memohon mode on* )

Sebagai pengompor kan mungkin anda bilang saya tidak sportif jika bisanya manas-manasin doang. Ya sudah saya akan coba memberikan opini saya. Tapi mohon maklum jika opini saya tidak valid dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena memang saya menyampaikan tidak sedang mewakili kelompok/latar belakang manapun melainkan sebagai anggota masyarakat biasa yang prihatin, sedih sekaligus masgul melihat kondisi ini.

 

  • Terkadang kita sebagai orang tua atau orang yang lebih dewasa terlalu naïf sehingga seringkali kecolongan. Kita sering menganggap remaja-remaja itu lugu dan tidak tahu apa-apa. Padahal kenyataannya mereka udah tau terlalu banyak dari yang kita kira dan saking banyak taunya mereka penasaran ingin mempraktekkan.
  • Sebagian besar remaja kita kurang memiliki tanggungjawab kepada dirinya sendiri boro-boro tanggung jawab atas masa depannya, orang tuanya yang banting tulang bekerja membiayai mereka apalagi lingkungan sekitar dan Tuhan Pencipta mereka.
  •  Budaya gampangin (menggampangkan sesuatu, resiko belakangan) yang dianut remaja-remaja kita. Gak tau ini warisan siapa yak?

Mungkin mentalitas aja lah yang saya tekankan di sini. Lain-lain saya persilahkan sederek-sederek yang ingin membahasnya diblognya masing-masing. Nanti saya didakwa kemaruk lak blaik. Oya, saya kok belum bilang terima kasih sama ibu dr. Evy udah mau ngelink blog saya dipostingannya. Matur nuwun, bu dokter memang is the best.

selamat datang!

Photo Flipbook Slideshow Maker

Google Translate

Banners


Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Arsip

my pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Statistik Blog

  • 32,714 kali dikunjungi

 

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031