(“Aku kasihan sama anak2 perempuan yang putus sekolah, disingkirkan dari pergaulan dan di hujat dan bahkan di cap ahli neraka karena hamil akibat “kecelakaan”, akibat ketidaktahuan pengendalikan sex, sementara anaknya di label “anak haram” (Ataghfirullah kok tega ya..?) apakah anak lain ada sertifikat halal dari MUI?” )
Jika tidak salah merasa (maaf jika saya terlalu sensitif) saya melihat kemarahan dalam tulisan ibu Evy. Lantas, apakah marah itu salah? Tentu saja tidak! Kita memang seharusnya marah tapi tidak kepada siapa-siapa melainkan kepada diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita sebagai orang tua, sebagai orang yang lebih dewasa, sebagai apapun kita dalam tatanan kehidupan bermasyarakat… jelas kita sudah lengah sampai kejadian ini terus berulang di depan mata kita.
Hamil di luar nikah, aborsi… sudah jadi makanan berita kita sehari-hari sedang di lain tempat seminar, acara-acara interaktif yang membahas masalah ini juga marak diselenggarakan dimana-mana. Di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di mall bahkan dalam acara arisan bapak-bapak/ibu-ibu RT. Pesertanya beraneka ragam dari pelajar, mahasiswa, orang tua dan berbagai kalangan lain yang mewakili kelompoknya. Alhasil, coba kita tengok tingkat hunian losmen-losmen kelas melati di tempat-tempat wisata pada saat libur datang, remaja-remaja semua lah yauw! Dagelan macam apa ini? He…
Sebenarnya sih membahas masalah ini cerita mati. Gak akan pernah ketemu ujung pangkalnya. Gak ada yang mau disalahkan. Semua bilang semua salah jika udah kejadian, pada saling tunjuk… piye jal? Lagipula hal ini berurusan dengan kebutuhan fitrah manusia yang jika ditahan bagaimana lantas jika disalurkan gimana juga wong masih pada ABG belum ada ikatan apa-apa, masih pada pacaran, cinta-cintaan. Repotnya ABG juga manusia jika pengin tiba-tiba datang tanpa diundang dan menuh-menuhin pikiran, hayo….? Tapi ngomong-ngomong kok jadinya saya sedang tidak kalah marah dibanding bu Dokter ini? He…
Ok deh, mungkin ada baiknya jika saya batasi permasalahan ini biar gak dipersepsikan dan melebar kemana-mana. Jadi yang saya maksud di sini adalah Free Sex yang dilakukan oleh remaja-remaja usia sekolah. Mungkin jika ada yang peduli akan hal ini boleh sumbang sarannya, ibu Evy juga boleh posting lagi yang lebih seru. Kenapa perlu saya batasi? Karena Sex Abuse ibu Evi bilang yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah jelas secara tidak langsung menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua, guru-guru dan dosen-dosen sebagai pendidik dan kita semua yang merasa lebih dewasa dari mereka. Jika setiap blogger menulis masalah ini kan rame tuh, bisa jadi refferensi bagi orang-orang yang berkompeten menangani dan pemerhati serius masalah ini. Siapa tau mas Antobilang jagonya bikin banner terus bersedia membuatkan banner “STOP FREE SEX & ABORSI, KARENA BAYI JUGA MANUSIA” untuk mengkampanyekan masalah ini agar remaja-remaja sadar akan bahaya melakukan sex bebas. ( Tapi ngomong-ngomong soal banner, kok saya bingung gimana cara pasang di blog saya yak? Dodol… dodoool! Ada yang mau kasi tau caranya gak? *memohon mode on* )
Sebagai pengompor kan mungkin anda bilang saya tidak sportif jika bisanya manas-manasin doang. Ya sudah saya akan coba memberikan opini saya. Tapi mohon maklum jika opini saya tidak valid dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena memang saya menyampaikan tidak sedang mewakili kelompok/latar belakang manapun melainkan sebagai anggota masyarakat biasa yang prihatin, sedih sekaligus masgul melihat kondisi ini.
- Terkadang kita sebagai orang tua atau orang yang lebih dewasa terlalu naïf sehingga seringkali kecolongan. Kita sering menganggap remaja-remaja itu lugu dan tidak tahu apa-apa. Padahal kenyataannya mereka udah tau terlalu banyak dari yang kita kira dan saking banyak taunya mereka penasaran ingin mempraktekkan.
- Sebagian besar remaja kita kurang memiliki tanggungjawab kepada dirinya sendiri boro-boro tanggung jawab atas masa depannya, orang tuanya yang banting tulang bekerja membiayai mereka apalagi lingkungan sekitar dan Tuhan Pencipta mereka.
- Budaya gampangin (menggampangkan sesuatu, resiko belakangan) yang dianut remaja-remaja kita. Gak tau ini warisan siapa yak?
Mungkin mentalitas aja lah yang saya tekankan di sini. Lain-lain saya persilahkan sederek-sederek yang ingin membahasnya diblognya masing-masing. Nanti saya didakwa kemaruk lak blaik. Oya, saya kok belum bilang terima kasih sama ibu dr. Evy udah mau ngelink blog saya dipostingannya. Matur nuwun, bu dokter memang is the best.





ya emang sulit permasalahannya, tpai budaya sex yg tabu itu bikin mereka mencari2 sendiri akhirnya salah kaprah tidak ada peringatan atau iklan yang bersifat umum bahwa safe sex itu harus, semuanya dibikin sembunyi2 akhirnya anak2 itu ga bener2 ngerti gimana baeknya, safe sex itu yg spt apa, menjaga diri itu bgaimana, mengendalikannya bagaimana dst, ya ntar coba aku bikin tulisan lagi, thanks ya
Yang pasti benar kata ibu, budaya kita memang kurang transparant mengenai pendidikan sex. Akibatnya remaja2 jadi salah arah demi memuaskan keingintahuan mereka.
Kaya’nya hal ini ga hanya terjadi disini kok pak. Hampir disebagian besar bumi ini, kejadian itu terjadi. Terlepas dari mengerti atau tidak, yang pasti .. pengendalian diri atas hasrat sex itu yang diperlukan. Ada teman saya, yang libido nya amat tinggi. Tiada hari tanpa sex. Tapi ada juga teman saya, sudah usia 30 tahun, belum mengerti soal sex. Gitu deh.
wah udah rame tuh blog nya hihihi musti rajin comment ke mana2 spy pada comment balik kesini
To. Ibu Evy
Thanks advice nya bu,..
Bu Dokter kapan posting lagi? Saya kangen tulisan bu Dokter.
Gak usah yang bermuatan “xxx” juga gpp kok. Di tunggu ya bu..
To. Pak Erander
Kalo temen bapak yang sudah seumuran dengan bapak c gak soal pak. Tapi ini, anak-anak masi pake seragam sekolah pak… bisa dimaklumi juga pak?
sudah saatnya sex education diberikan, terutama untuk remaja.
sudah saatnya ada keterbukaan, untuk menghindari “keterbukaan” dalam bentuk yang lain.
Remaja saat ini ‘lebih cepat dewasa’ akibat didikan dari media baik cetak atau elektronik.
Kita, yang juga remaja…mari kita mulai dari diri kita sendiri!
*dengan mimik serius&bersemangat*
To. Chiw Imudz
Nah spt ini bapak2/ibu2 yg disebut pemudi harapan bangsa. *dgn semangat 45*
Smoga bener ya nok, karna tau gak bedanya perempuan nyesel dengan laki2 nyesel? Kalo perempuan nyesel itu pasti dia dah khilangan sgala2nya, tapi kalo laki2 nyesel dia cuma khilangan waktu aja. Gak adil tho? Makanya…!*dgn mimik sangat serius*
terharu…nama saya disebut2… *halah*
nanti saya coba buatkan bannernya…
perlu posting khusus nih…
ohya, cara pasang banner ada di [sini], kalau belum jelas japri aja…
To. Anto
Iya mas, buatin bannernya dong….
Ok deh, saya akan belajar pasang banner nya. Saya klik yak..
freesex nggak boleh karena dilarang agama jadi kalo masih punya agam ni mending tahan dulu deh agar nggak konslet and kesleo trus jadi orang brengsek
gmana cara mengatasi fresexs
Mom….
Maafkan aku…
mungkin aku salah satu yang kalian bicarakan.
but, aku seperti ini juga bukan karena mauku.
Kamu lihat dimana-mana hal itu sudah jadi kelaziman.
trus mau bilang apa?
apa harus menjadi kesepian ditengah kegaduhan
Oh Mam….
Maafkan Aku…
saya sudah mengenal lebih jelas sekarang, mengapa cewek” seumuran saya sudah banyak ngelakuin hal yang menyimpang, seperti yang dikatakan orang” yang curhat disini.
saya sarankan bagi para cewek” jgn dulu dech ngelakuin hal yang belum saatnya,,coz suatu saat pasti kalian rugi sendiri,,siapa coba yang mau nikahi Xn,,trus kalo Xn ketergantungan,apa coba yang selanjutnya??
apa Xn ga takut dosa??
cowry dech kalo aku banyak ngomong coz aku khawatir bgt ma Xn pha lagi yang baru menginjak dewasa,,N saya saranin Xn harus berhati-hati dalam bergaul coz banyak sekali cewe” yang dijerumuskan sama temannya sendiri..
Oc dech kalo gitu sampai dicini az yach moga apa yang aku saranin bisa bermanfaat bagi Xn semua khususnya bagi ABG ckrg….bye………^_^