Gde Prama pernah bilang seperti ini, kebahagiaan itu gak bisa dibeli dengan uang. Kalo kebahagiaan itu bisa dibeli, pastinya orang-orang yang berlimpah uang akan ramai-ramai membelinya. Gak akan ada penderitaan dari dalam rumah mewah. Tapi lihat betapa banyak air mata tercurah malah berasal dalam rumah-rumah mewah. Penderitaan karena perselingkuhan, penderitaan karena anak-anaknya salah arah dan pergaulan……
Lantas,…
Kebahagiaan itu seperti apa?
Dimana kita mencarinya?
Apakah ada yang tepat mendefinisikannya?
Menurut siapa?
Menurut saya, anda atau mereka?
Mungkin seperti itulah kontroversi tentang arti kebahagiaan. He.. mungkin aneh ya hari gini masih ngomongin kebahagiaan? Common sense lah, tapi bagi saya nggak. Karena apa, setiap bertanya kepada seseorang… tujuan hidup mereka itu ujungnya adalah memperoleh kebahagian. Kerja keras banting tulang agar bahagia, menikah semoga bahagia, bersekolah tinggi-tinggi agar kelak bisa bekerja layak, hidup berkecukupan dan bahagia, apa lagi? Lantas setelah sekian lama dan orang-orang yang saya sebutkan tadi udah kaya, udah mempunyai anak-anak dari hasil pernikahan, udah bekerja dengan sangat layak dan berkecukupan kemudian ditanya lagi, apakah ente sudah bahagia? Mereka menjawab belum. Nah lho! Lebih aneh lagi kan?
Kayaknya dah mulai menarik nih. Narsis banget iks… hehe. Bukan, nggak bermaksud narsis kok hanya menghibur diri sendiri aja. Sebenarnya kebahagiaan itu nggak mengenal kata belum lho. Yang ada juga kita itu bahagia atau nggak. Mutlak nilainya, nggak ada istilah setengah bahagia, nggak ada ungkapan nyaris bahagia. Jadi bentuknya bulat penuh dan kenyal. Persis seperti… ehm! Kok kenyal? Ya iya dong… karena hidup itu kan pasti ada saja cobaannya baik itu penderitaan, kesedihan maupun kesialan dan orang yang bahagia itu tentunya tetap mempunyai hati yang sehat yang bisa merasakan sakit juga kecewa. Dan kenyal itu adalah kemampuan untuk mengatasi segala cobaan dan tetap membuatnya nggak kehilangan kebahagiaan. Begitu maksudnya…
Sebenarnya saya nulis ini karena terinspirasi oleh seseorang. Seseorang yang saya kenal dekat. Seseorang yang saya kagumi karena ketabahan akan penderitaan yang menderanya. Namun ia tetap bersemangat dan nggak mau putus asa. Seorang wanita, cantik… sangat cantik. Pastinya orang-orang mengira ia bahagia karena kecantikannya. Kecantikan yang akan membuat iri bagi siapapun yang melihatnya. Padahal bukan, bukan kecantikan yang membuatnya bahagia, tapi ada sesuatu yang jauh lebih cantik yang membuatnya bahagia meski penderitaan begitu kejam menyiksanya. Hatinya… pengorbanan untuk orang-orang yang dikasihinya.
Dua tahun yang lalu dia didiagnosa menderita penyumbatan pada tuba falopi. Ada kista dan terakhir endometriosis. Sebenarnya keluhannya udah dari semester-semester awal dia kuliah sekitar 7 – 8 tahun yang lalu namun nggak dirasakan. Baru diperiksa sekitar 2 tahun yang lalu karena sakit yang teramat sangat di pinggang dan bagian dalam perutnya. Segala pengobatan udah dicoba bahkan sampai Laparascopi satu setengah tahun yang lalu. Sakitnya belum juga kunjung sembuh. Setiap waktu, setiap malam dia meringis menahan sakit, kadang juga dia menangis jika sakit udah nggak tertahan. Terkadang dia telpon kepada saya ketika sedang menangis menahan sakit, bercerita sekedar untuk melupakan nyeri di dalam perut dan kemeng di pinggangnya. Ketika activitas pekerjaan menyita energi dan pikirannya, keletihan kadang menstimulasi rasa sakitnya. Tapi dia tetap nggak pernah putus asa. Yang terbayang hanya raut muka ayah dan ibunya yang sudah membesarkan dan mengasihinya jika dia menyerah dan berhenti bekerja. Dia takut ketika orang tuanya membutuhkan sesuatu dia tidak bisa membantunya. Ini adalah kebahagiaanku katanya. Bahagia karena melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia.
Dasyat nggak? Dia yang sendirinya menderita, masih memikirkan kebahagiaan orang lain karena itu membuatnya bahagia. Tapi memang benar, kita tidak bisa bahagia sendirian. Bisakah anda bahagia sendirian jika mengetahui orang-orang yang kita sayangi menderita? Saya kira kita semua masih belum gila dan masih memiliki sebentuk hati yang sehat seperti dia. Kita nggak akan pernah bahagia sedang saudara-saudara kita, orang-orang yang kita sayangi menderita.
Jadi kebahagiaan itu seperti apa? Mudah-mudahan mulai sekarang kita udah bisa mengidentifikasikannya. Mungkin jika kita tidak bahagia terus kita bertanya kenapa? Kita tidak perlu lagi melihat jauh-jauh untuk mencari jawabnya. Lihatlah sekeliling kita, anak istri kita, orang tua kita, adik-kakak kita, saudara-saudara kita. Apakah kita sudah benar-benar menyayanginya? Sudah bahagiakah mereka, jika tidak berikan apa yang kita bisa untuk membahagiakannya. Agar kita bahagia karena mengetahui mereka bahagia.
(Tulisan ini saya dedikasikan untuk kamu dan penderita penyumbatan tuba falopi, kista dan endometriosis dimanapun anda berada)





mengharukan.
aku miris membacanya. kalau diabndingkan dengan dia, aku ternyata amat sangat jahatnya.
eniwe thx udah ngasih ngasih jejak di blogku. salam kenal. nice 2 meet u
reagrds
To. kw
Thanks balik mas…
Bukan untuk perbandingan kok mas, setiap orang itu unik. Pasti ada kelebihan juga kekurangannya.
Blog mas uda saya add.
Haru, bener deh
, meski sempat berpikir mesum liat judulnya.
Aku dulu juga kena endometriosis aku sering pingsan menahan sakit, sebenrnya bisa di obati gampang cuman satu obatnya menikah dan hamil atau bila belum bisa minum pil KB aja itu isinya hormon untuk menyeibangkan estrogen…coba konsultasi lagi sama dokternya, meski cukup bahagia ya tetep kud usaha
To. Anas
Bagus masih bisa haru, karena banyak orang yang uda gak peduli lagi dengan kesedihan orang lain sekarang ini. Emang diberi kesan spt itu mas, yang mesum2 kan lebih sering dilirik orang. Bahasa marketing mas aja mas…
To. Ibu Evy
Obatnya emg hamil bu. Tapi gimana bisa hamil jika ada penyumbatan? Gimana bisa hamil jika harus minum pil kb karena obat yang berisi hormon sesungguhnya sangat mahal? Laparascopy aj gak ngefek, mau operasi yang lebih besar lagi dah kadung trauma…. Tunggu keajaiban aj kali bu.