You are currently browsing the daily archive for Mei 29th, 2007.
(refleksi satu tahun lumpur laknat lapindo brantas)
Sepiring nasi dihadapanku baru beberapa suapan masuk dalam perut ketika televisi tadi menayangkan peringatan satu tahun muncratnya lumpur lapindo brantas. Yah hari ini, ku lihat beberapa ratus orang dari Porong, Jambon, Tanggulangin… berbondong-bondong meninggalkan tenda-tenda penampungan menuntut hak mereka yang terampas. Mereka menjerit entah siapa yang mendengar, mereka meratap entah kepada siapa harus menghiba, mereka menangis entah kepada siapa akan datang mengusap. Kenapa harus seperti ini sesalku.. mereka tidak pantas seperti ini gundahku. Toh mereka menuntut haknya gusarku. Hak yang akan tetap menjadi miliknya jika lumpur laknat itu tak datang mengubang.
Volume luapan antara 125.000 – 150.000 m kubik per hari benar-benar mimpi buruk dalam keterjagaan. Sungguh-sungguh memporakporandakan impian manis dari asa yang memenuhi atas 10 hektar kehidupan yang harus menyingkir saban harinya. Sudah 27.000.000.000.000 lenyap tak berbekas, padahal setiap sen dibangun atas senyum dikala pagi, keletihan sepanjang hari, keringat yang masih menetes, lengket dibadan mengendap di sore hari namun menebarkan aroma kehangatan bagi orang tua, anak istri dalam istana mereka sebelum semuanya terendam oleh lumpur layaknya kubangan kerbau peliharaan mereka.
7000 an hektar binasa sudah, seiring tak terdengarnya lagi suara anak-anak yang riuh bermain gobak sodor disela-sela jam istirahat sekolah. Digantikan suara gemuruh alat-alat berat dan mesin generator dari pompa penyedot lumpur. 30 an lebih pabrik tulang punggung sendi-sendi perekonomian Sidoarjo gulung tikar. Ribuan karyawan menganggur berbagi jengkal menghuni tenda-tenda penampungan dan terkadang harus makan nasi lauk basi ketika masih berupa jatah makan.
Di mana petinggi-petinggi lapindo brantas, di mana wakil-wakil rakyat, pejabat-pejabat negara, tidakkah melihat ini? Di mana hati nurani kalian? Apakah hati kalian sudah membatu atau malah kalian terlahir dari batu bukan atas kasih sayang seorang ibu? Ketika masih aku lihat siang itu ada seorang ibu menangis, meratapi hidupnya, menyesali nasibnya karena sudah kehilangan semuanya. Suami meninggal karena stress beberapa hari setelah mengikuti demonstrasi sedang dia harus hidup, anak-anaknya masih harus terus melanjutkan hidup sedang semua harta benda tak tersisa, pekerjaan tdak punya. Kepada siapa ia harus menggantungkan kehidupannya? Seperti ketika itu aku langsung teringat ibuku, apakah kalian tidak melihat ibu kalian di sosok perempuan itu? Bayangkan jika itu adalah ibu kalian? Tidakkah kalian pernah merasakan kesedihan? Atau bisa jadi sebaliknya, kalian tak pernah tahu kebahagiaan itu seperti apa bentuknya sehingga kepedihan ibu kalian saja tidak bisa kalian rasakan.
Seperti ketika aku melihat anak-anak seusia Si Kancil bidadari kecil yang aku sayang berpeluh keringat karena terik siang tadi. Tidakkah kau melihat itu anak-anakmu? Tidakkah kalian pernah membayangkan jika yang berdiri disana meratap, mengucap shalawat badar adalah kalian. Dan kalian melihat muka anakmu merah kepanasan, perut keroncongan menahan haus dan lapar. Aku tidak hanya akan menitikkan air mata tapi akan membunuh diriku jika itu adalah dia anakku yang kusayang.
Setahun bagi kalian mungkin adalah waktu yang singkat, setiap hari kalian menyesali kenapa waktu cepat berlaju lewat. Tapi pernahkah kalian membayangkan, setahun bagi korban lumpur laknat ibarat seabad. Dan siang itu aku masih melihat orang-orang menolak relokasi dan menuntut 100% pengembalian hak atas rumah dan tanah yang baru 20% engkau tunaikan. Sepiring nasi sudah dihadapan, aku cepat-cepat menghabiskan meski sudah berasa kesedihan. Tetap aku paksakan untuk terus menelan meski kadang harus tersekat ditenggorokan. Aku tetap memaksakan tanpa punya keinginan tidak menghabiskan… karena aku ingat perut keroncongan orang-orang ditenda penampungan.












Komentator