(Saya memakai “kita” bukan “kalian” sebagai seruan kata ganti orang ketiga karena saya sedang membayangkan menuliskan ini buat saya sendiri diwaktu-waktu sebelum ini)
Judul di atas sebenarnya adalah penggalan dari seruan kalimat berikut : “Wahai blogger…. jangan hanya pintar omong doang! Tunjukkan hasil karyamu, apa yang udah kita perbuat….. sebagai apapun kita, paling tidak buat diri kita sendiri! Bukankah untuk sesuatu yang lebih besar harus dimulai dari diri kita sendiri dulu? Buat diri sendiri aja dulu, setelah itu baru buat keluarga, tidak perlu mikirin orang lain, kejauhan… karena jika kita udah bisa menunjukkan karya kita akan lebih banyak kesempatan buat kita untuk bisa membantu orang lain, menyenangkan orang-orang yang kita sayangi, sahabat-sahabat kita, komunitas kita dan terakhir pastinya kita udah berguna buat agama dan negeri kita tercinta”.
(Trus jika kemudian kita bertanya, “Siapa loe berani-beraninya ngomong seperti itu?” Saya akan menjawab, “Yang pasti saya udah pantas di panggil “Mas” bukan “Dik” bahkan oleh orang yang lebih tua dari saya. Karena mana pantas ada orang dipanggil “Dik” sedang dia dah kumisan, he he he)
Jika kesadaran dan pengertian akan pentingnya sesuatu buat seseorang itu bisa kita ibaratkan layaknya kita sedang hendak bertamu, terkadang cukup dengan kritik dan masukan saja sebagai ucapan salam seseorang sudah akan membukakan pintu. Tapi ada seseorang yang mesti diketuk-ketuk dulu baru akan membukakan pintu. Itu juga ada yang cukup hanya sekali, ada yang mesti dua kali atau tiga kali. Yang lebih parah lagi ada juga seseorang yang baru akan membukakan pintu setelah kita gedor-gedor. Tapi itu masih mending karena ada tipikal orang yang mo digedor-gedor model apapun bahkan sampai kedua tangan kita sampai bengkak-bengkak pun tetap nggak mau membukakan pintu. He he… Jadi semua akhirnya kita kembalikan kepada diri kita masing-masing sekarang, bagaimana kita menginteprestasikan. Apakah tulisan ini sebagai ucapan salam, ketukan atau gedoran. Dan kita juga bisa menilai diri kita sendiri termasuk tipikal yang mana pada akhirnya.
Maaf jika keliru, mungkin sedikit kita temui tulisan-tulisan generasi muda yang berisi antusiasme. Semua rata-rata menulis mengenai pertemanan, curahan hati, jalan-jalan, shoping, ngedate, makan-makan, pacaran, realita sosial, mengolok-olok dan mlesetin tatanan yang sudah ada mentang-mentang ada alasan kebebasan berekspresi dan banyak lagi lainnya. Bukan nggak boleh menulis itu. Boleh aja bahkan sebagai sebuah ide lahirnya sebuah tulisan hal itu menunjukkan suatu bentuk kreativitas. Dan itu satu tiket yang menunjukkan kepiwaian kita berkomunikasi, menjalin relasi, berkooperasi, berargumentasi dan bagaimana kita mengemas dan menyampaikan ide. Tapi itu hanya satu tiket aja, satu tiket yang membuat kita melaju sampai diperhentian berikutnya. Mana antusiasme kita yang membuat kita yakin akan bisa melewati semua rintangan yang ada? Menguap kemana semangat kita, bersembunyi dimana dia?
Wahai blogger, jangan cuma pintar omong doang! Mari kita tunjukkan effort kita, kita pamerkan prestasi kita ke ujung penjuru dunia! Betapa rindunya kita, diantara kita ada yang menulis, “HOREEE, SAYA LULUS CUM LAUDE!” Atau sebuah postingan ringan mungkin tapi maknanya sangat dalam, “PUAS SAYA, POKOKNYA BENER-BENER PUAS DEH!” Bukan puas karena apa-apa, tapi karena kita bisa posting dan blogwalking pake duit sendiri, gimana caranya kek. Bukan hasil dari ngrampok nodong ortu buat bayar warnet atau asal connect aja mentang-mentang tagihan telpon ortu yang bayar, he.
Yah, mungkin itu adalah contoh kecil aja karena yang besar-besar akan segera kita lakukan bukan? Masa depan kita adalah ditangan kita, banyak diantara kita yang masih sekolah, kuliah… tunjukkan prestasi kita. Karena masa depan kita masih terbentang dan semuanya hanya akan bisa kita raih dengan berprestasi. Nggak ada tempat bagi kita yang cuma pintar omong doang! Masih ada satu fase lagi dimana dari semuanya kita akan berada, dunia yang penuh kompetisi, dunia kerja, dunia dimana kita akan benar-benar berkarya. Yakinlah semuanya tidak gampang untuk diraih, karena tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang benar-benar kaya. Banyak duit mungkin, tapi kaya? Nggak ada! Omong kosong! Apa artinya, bahwa semuanya berebut untuk bisa bekerja. Karena jika kita merasa kaya, kita akan berani berhenti untuk bekerja dan berkarya. Ada yang berani? Silahkan tunjuk jari!





Yang Ikhlas Kena Kibul