Barangkali apa yang menjadi ketakutan Bung Karno akan bangsa ini tengah menjadi kenyataan. Mau mengakui atau tidak, suka atau tidak suka… memang begitulah kondisinya. Tidak perlu kita membela diri, tidak usah kita mengelak, tidak guna juga kita menyesali bahkan seandainya kita menangis menetes air mata darah pun karena meratapi tidak akan berarti merubah image kita, bukan kita sendiri yang membiarkan predikat itu terpatri, melekat kuat sebagai bandrol harga murah atas harkat juga martabat kita? Kita semua yang mewariskan hingga predikat itu terus disandang oleh anak-anak cucu kita. Sampai kapan?
Ini pasti kutukan kalau kita tidak mau mengakui semua adalah salah kita. Tapi apakah kita percaya? Sedang sebenarnya kita masih bisa berusaha, bekerja keras, mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa lebih baik dan bermartabat seperti halnya kesempatan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain yang bukan kuli. Ya Tuhan, mungkin jika Engkau mau jujur sebenarnya juga sudah bosan memberi peringatan, karena memang kami semua tuli, karena kami semua memang buta. Engkau juga pasti sudah habis akal untuk membuka hati dan pikiran kami yang bebal dan ngeyelan.
Kita pasti akan lebih mempercayai jika semua kekacauan sebagai kutukan daripada mengakui semua adalah ekses akibat kesalahan karena kita memang bangsa yang sarat pembelaan. Bangsa yang daftar pembenaran atas dirinya seluas wilayah teritorialnya sendiri. Bangsa yang kerapkali mumet atas pilihan yang sudah dibuatnya sendiri. Bangsa besar yang hanya melongo ketika harga dirinya seringkali ditampar, diinjak-injak, diludahi, didzalimi oleh bangsa-bangsa majikan yang hanya seujung tai kuku luas wilayahnya.
Bayangkan jika kita bangsa kuli pergi ke negara-negara tetangga terdekat dengan tujuannya masing-masing selalu dicurigai padahal tidak semuanya adalah pendatang haram dan ini tengah terjadi. Bayangkan sedang enak-enaknya kita menikmati megahnya jalan-jalan di negara-negara tetangga di malam hari tiba-tiba saja didatangi dan diperlakukan tidak menyenangkan oleh polisi-polisi setempat maupun aparat imigrasi yang menyangka kita pekerja illegal. Bagaimana kita akan berbangga bisa berlindung karena merasa sebagai bagian dari negara bermartabat yang bukan bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa. Jika kita sebagai pejabat yang waras, mungkin kita akan lebih percaya diri pergi ke negara tetangga yang katanya serumpun dengan tampilan mata sipit, kulit putih, rambut lurus bukan mata belok, kulit sawo matang, rambut kribo seperti kebanyakan warga asli bangsa kuli yang bisa melancong karena sekedar dapat reward dari perusahaannya daripada datang dengan tujuan kenegaraan tapi masih terdengar ditelinga bisik-bisik, kasak-kusuk, cengar-cengir yang menyebut kita presiden bangsa babu, pejabat bangsa pengekspor wanita penghibur dan pemuas syahwat.
Tidak cukupkah korban tindak kekerasan yang dialami oleh saudara-saudara kita yang menjadi babu di negeri majikan? Berapa banyak mereka yang dikibuli karena tidak dibayar hasil jerih payah cucuran keringat yang menjadi haknya, berapa banyak perempuan bangsa kuli yang dilecehkan diperlakukan tidak senonoh bahkan diperkosa oleh majikannya, sampai kapan kita akan terus dicibir, dan sampai kapan predikat bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa mesti ditanggung oleh anak-cucu kita? Sampai kapan kita akan mengekspor warganya untuk di hina di negeri lain?
Jadi teringat obrolan sore itu ketika kami, saya dan beberapa mekanik yang masih belepotan karbon juga oli karena habis melakukan overhaul salah satu main engine sebuah Tag Boat. Tiba-tiba pemilik Tag Boat yang kebetulan juga sedang bersama kami nyeletuk, “Pak, tau nggak pak ada wasit karateka kita yang dipukuli oleh 4 polisi di negara tetangga?” Kemudian kami pun sontak menjawab, “Iya pak!” Sejurus kemudian atmosfer di anjungan kapal itupun sudah ramai dengan kalimat-kalimat yang berisi kekesalan, kegeraman dan beberapa kali sumpah serapah. Singkat cerita, “Kalo begitu lebih baik kita perang aja”, kata rekan saya. Kemudian pemilik Tag Boat itu bilang, “Ye, pak… pak!” katanya sambil menepuk-nepuk bahu rekan saya yang kebetulan berada disampingnya. “Pak, bagaimana kita mau perang, bapak nggak liat orang-orang mau beli minyak tanah aja mesti ngantri bahkan ada yang mesti pake girik?”
Dan kami pun mengakhiri sore itu dengan hati masgul dan gusar sambil ngeloyor pulang. Sambil menghibur diri dalam hati, toh nggak semua diperlakukan tidak menyenangkan di negeri majikan. Ya ya, karena kita memang bangsa dengan segudang pembelaan dan bangsa yang daftar pembenaran atas dirinya seluas wilayah teritorialnya sendiri.





endonesia yah beginih
sabar, mas….
sabar…
Saya juga rasanya mau perang pas baca soal wasit kita itu, tapi lagi ospek.hehe47x..
Jadi ngurusin kewajiban yang di depan mata dulu.
Mungkin kita terlalu baik ya sama Malaysia?jadi ngelunjak gitu.
to mas Vino
begitu ya mas..?
*lemes amat mas, he..*
to calonorangtenar…
jangan mba, kalo skg perang… tar jadwal ospeknya ketunda, mba hana mo daftar jadi sukarelawan apa?
gimana, juniornya cakep2 gak? jangan galak2 ngospeknya yak, tar kena pelanggaran HAM! ditunggu postingan seri ospeknya. thanks.
tenang aja..ospek udah beres..tulisan juga udah published..
juniornya ga ada yang ganteng..cuma ada satu, itu juga udah saya godain sampe ada yang ngambek..hehe47x..
*lirik bang ais terus kabur*
Waduch…langsung speechless. Singkat dan padat
Bingung juga dengan kasus ini…
Geramnya bukan hanya sama (polisi) Malaysia tetapi juga geram dengan ketidaktegasan sikap pemerintah kita.
Dulu kita lebih banyak mengekspor “otak” (guru-guru) ke Malaysia, tetapi kita sekarang lebih mengekspor “otot”. Mungkin hal inilah yang berakibat pada sombong dan angkuhnya Malaysia
Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan para pahlawan devisa kita yang bekerja mengandalkan otot. Sekali lagi mohon maaf
[OOT mode ON]
Pulisi di malaysia itu kan cuma belajar dari pulisi Indonesia. Lha… pulisi Indonesia sendiri main gedebak-gedebuk sama WNI, apalagi pulisi negara orang
[OOT mode OFF]
Ehm… sepertinya bangsa ini akan terus memproduksi penerus-penerusnya.
dan akan terus menghisap darah-darah saudara mereka sendiri dengan congkaknya.
Kalau untuk tenaga kerja, ga hanya Indonesia koq. Ada Philiphina, India, Mexico, Negara2 Afrika. Memang tenaga kerja asal Indonesia lebih disukai, karena bisa “bebas” dianiaya mereka. Karena mereka tahu, Indonesia ga akan “mampu” membela bangsanya sendiri. Wong dua pulau diujung utara Kaltim aja bisa diambil Malaysia aja koq hanya gara2 kedua pulau itu dirawat oleh Malaysia. Bukan karena bukti “sertifikat” yang dimiliki oleh Indonesia.
*mode serius: on*
aku tidak akan mengomentari semua isi artikel, tapi lebih ke beberapa bagian yang aku tidak bisa terima:
aku gak rela bangsa-ku dikatakan bangsa kuli, sejelek apapun nasib dan tingkah bangsa-ku. Bukan dan bukan karena aku antek2 dari pejabat-pejabat tertentu, apalagi agen intelijen malaysia.
aku lebih melihat (dari sisi humanisme) teman-teman yang mungkin bernasib tidak lebih baik dari kita, yang harus (mau tidak mau) ke malaysia untuk bekerja karena tuntuan kehidupan (bukan hanya sekedar korban iming-iming gaji besar dalam ringgit,) dan aku yakin mereka juga tidak ingin dipanggil dengan sebutan “babu” (jujur, ini kata-kata yang paling aku benci)
jadi mungkin hubungannya dengan artikel ini, lebih ke…apa kita (para blogger) ada solusi untuk memecahkan masalah ini?, apa ada diantara kita (stop nyalahin pemerintah melulu) yang menjamin jika mereka pulang ke indonesia, trus mereka bisa kerja?
kita marah ke malaysia karena mereka memukulin dan menghina wasit karate indonesia, tapi apa kita pernah marah ke diri kita sendiri, yang mengatakan para tenaga kerja kita yang notabene manusia sebagai babu?
*mode serius: off*
@ mas Deking
20 tahunan yang lalu padahal bangsa kita masih diperhitungkan oleh singapore apalagi negeri jiran malaysia. Sekarang sama india aja nggak ada apa2nya..
@ mas Alex
Wakaka… tauk ah mas.
@ om Peyek
Mudah2an nggak om, jika bangsa ini mau belajar tentang kepahitan warganya yang teraniaya di negeri orang.
@ bang Erander
Ada satu hal lagi kenapa tenaga kerja bangsa ini lebih disukai dibanding negara2 lain, mau dibayar murah bang, lha wong yang dikirim orang2 yang nggak ada skill kok.
@ mas Extrem
Sama mas. Saya juga nggak rela bangsa kita disebut bangsa kuli, makanya saya nulis ini sebagai wacana.
Soal pemakaian kata “babu” ini kan buat konsumsi kita-kita aja yang mempunyai nalar lebih dan sense of human yang diatas rata2.
Memang bisa menyentuh hati nurani kah mas, jika kita ingin target tertentu terhadap pemerintah mungkin dengan mengganti kata “babu” dengan kata “pembantu” yang kedengarannya terasa lebih sopan, padahal kenyataannya saudara2 kita memang dianjingbabikan oleh para majikannya yang terhormat di negeri orang?
Dengan kenyataan kejadian yang terus berulang yang menimpa saudara2 kita aja, sama sekali nggak menggerakkan kepedulian pemerintah apalagi cuma kata2 sarkasme model “babu” atau “budak” sekalipun?
Perlindungan hukum yang jelas terhadap mereka mas, paling tidak. Jika memang kita baru bisa mengekspor warganya yang tanpa skill secara besar-besaran karena ketaktersediaan lapangan kerja di negeri sendiri.
Oya, salam kenal mas, sekalian saya minta ijin add link alamat weblog mas. Thanks.
@undercover
salam kenal juga bro, thx udah mo add link-nya ya. Ini aku juga lagi nyedot link-nya bro
*mode serius: on*
Ini dia
. Jadi apa kita menganggap bahwa nalar kita lebih tinggi dari “mereka”? Memangnya dimana kelebihan aku, kamu, kita, dibandingkan “mereka”?
Ya, dan akan lebih baik lagi. Dengan sedikit tambahan seperti pada komen-ku yang sebelumnya “stop nyalahin pemerintah melulu”, lihat dulu apa yang kita bisa lakukan. Menurut aku sebelum kita memulai “revolusi”, kita harus tunjukkan terlebih dahulu kalau kita bukan bagian dari “rezim”, yaitu dengan menunjukkan bahwa kita adalah bagian dari “mereka” dan bukan orang dari “luar”. (setahu saya banyak TKI/TKW kita yang tidak gaptek dan memilik “sense of technology” yang cukup tinggi, bahkan mungkin mereka lebih berhasil dari kita-kita disini. Bayangkan jika mereka membaca postingan ini pada saat kita mem”babu”kan mereka?. Contohnya disini)
Kalau ini saya setuju, kenapa bukan kita yang memulai, dan dan kenapa harus menunggu? Ada ide dari teman-teman yang lain?
*mode serius:off*
@ mas Extrem
He he, sebelumnya thanks berat dah sudi berembuk untuk masalah ini disini mas. Sebagai sebuah komunikasi kondisi seperti inilah sebenarnya yg saya maksud, dimana kita bisa berbagi sudut pandang, yang akan menambah luas cakralawala pemikiran kita melalui f/b dari teman2. Ok, tapi ada baiknya saya batasi bahwa yang sedang kita usung disini adalah saudara2 kita yang non skill yang banyak sekali jumlahnya. Bukan mereka yang jadi expat di negeri orang karena keahliannya.
Bagi saya, layaknya hendak pergi berperang adalah tindakan konyol jika minimal kita tidak dibekali strategi, senjata dan perisai untuk membela diri. Bunuh diri massal mas, harakiri namanya.Seharusnya pemerintah sendiri dengan tegas melarang pengiriman tenaga kerja non skill ke luar negeri karena akan banyak sisi negatif dari positifnya. Jangankan mereka yang kebanyakan cuma lulusan SMP, tidak tamat SMA sedangkan Sutiyoso aja masih bisa kena gerebek di hotel di Australia. Ciptakan kondisi yang kondusif di dalam negeri. Kinerja orang kita mas kenapa banyak investor hengkang. Batam yang digembor2kan sebagai proyek mercusuar, semuanya omong kosong dan banyak lagi lainnya.
Jadi menurut saya, stop aja pengiriman tenaga kerja non skill ke manapun yang notabene mereka adalah “babu”. Bukan saya yang menciptakan predikat itu lho mas. Predikat itu ada karena kita membiarkan semua itu terjadi. Saya cuma sedang menampilkan kenyataannya agar predikat itu tidak akan pernah kita dengar lagi bagaimanapun caranya. Karena saya sendiri juga alergi dengan sebutan “babu” tidak ingin bangsa ini menjadi “bangsa kuli”. Kenyataan dilapangan lebih menyakitkan lho mas. Selama di penampungan oleh PJTKI aja udah ngenes mas kadang sudah diperlakukan tidak manusiawi, mosok sampai disana juga cuma untuk dianiaya? Saya yakin mas extrem juga nggak akan rela. Mungkin itu aja dari saya mas..
Kalau bicara babu jadi ingat kata bedinde - yang sempat dilekatkan seseorang kepada saya .. tapi saya malah senang .. karena saya malah melihat dari sisi positip-nya. Babu, bedinde sama halnya dengan istilah asisten, wakil, pembantu, ajudan dan lain sebagainya yang nota bene-nya tanpa “mereka” tersebut, rasa-rasanya hidup akan sedikit ribet.
Mau ga mau. Memang kehadiran asisten, wakil, pembantu, babu, bedinde dan lain2nya itu menolong orang2 yang memerlukannya. Hanya saja .. yang jadi persoalan adalah jika orang2 yang telah dibantu atau ditolong tersebut tidak memberikan apresiasi sebagai mana mestinya.
Jangankan di luar negeri. Di dalam negeri aja, ada - jika tidak ingin dibilang banyak - babu atau pembantu yang dianiaya oleh majikannya. Gaji ga dibayar. Dilecehkan secara sexual. Dianggap kasta bawah. Padahal begitu lebaran tiba, babu atau pembantu pulang kampung .. si majikan merasa kehilangan.
Lem kenal…
Saya tau soal kasusu pemukulan itu dari ibu saya, lewat sms. Karena sms itu nggak langsung saya balas lantaran
habis pulsasibuk, ibu saya nelpon ke hape. Dia sibuk cerita ke saya soal kasus pemukulan itu, dan wanti-wanti ke sayakarena dia tau anaknya ini bedebah :psupaya nggak macem-macem di negara orang. Karena dia bilang, orang Endonesa sudah dianggep sebagai sampah dan parasit oleh negeri lain…Haih…
Sama-sama, kita juga ini lagi diskusi kok
Mungkin kita harus ingat, berperang tidak sama dengan bekerja. ya, berperang harus dibekali dengan strategi dan senjata, dan ya bekerja harus dilengkapi dengan skill. tapi, perang lebih ke kebutuhan negara dan bangsa dan ingat bangsa Indonesia tanpa senjata juga bisa merdeka kok, sedangkan kerja itu untuk memenuhi kebutuhan perut, iya gak? apa kita harus nunggu dulu sampai kita pintar dan punya skill baru kita bisa ngisi perut?
Nah kembali ke komen saya yang sebelumnya, kalau pemerintah melarang tegas, apa pemerintah siap memberikan solusi pekerjaan buat mereka yang jumlahnya hampir setengah jumlah total penduduk Indonesia?, kalau pemerintah tidak siap, apa kita (yang berkoar koar disini) siap menjawab tantangan itu dan memberikan mereka pekerjaan atau minimal skill untuk dapat dipergunakan? nah, kalau kita tidak siap apalagi mampu? apa coba akhirnya?
Errr….
Akhirnya….?
*nungguin akhirnya muncul*
moga-moga g lantas punya mental kuli juga…