Bukan main! Ada-ada saja cara manusia untuk bisa memanfaatkan sesuatu agar menjadi sebuah komoditas. Bedebahnya lagi, mereka sangat tahu bahwa dengan berpura-pura peduli dengan kemalangan orang lain akan besar sekali mendatangkan simpati dari publik kepada dirinya. Ya, sebenarnya nggak ada sedikitpun terbersit dalam benaknya untuk berlaku mulia kecuali kepintaran memakai orang-orang yang tidak beruntung ini sebagai alat untuk mendapat perhatian atas tendensi murahan dalam otaknya masing-masing. Dengan dalih kepedulian, rasa keprihatinan, senasib sepenanggungan, kebersamaan, persaudaraan atau apalah yang semuanya tak lebih sebagai kedok. Mengerikan memang hati manusia yang bermuka dua seperti ini. Dia bisa berperan sebagai apa aja lebih-lebih peran baik karena kemampuan finansialnya, menjadi orang dermawan bak sinterklas, menjadi orang yang penuh perhatian layaknya seorang pahlawan padahal semuanya hanya kepura-puraan dan hatinya menyeringai puas karena kebohongan.
Beberapa waktu yang lalu, saya baru saja membuktikannya. Dalam sebuah panggung sandiwara kolosal bertajuk “Buka Puasa Bersama”. Dalam hati saya tertawa geli, ah yang betul? Buka puasa bersama bagaimana maksudnya? Bersama siapa? Bukankah kalian berbuka puasa bersama dengan komunitas yang kalian klaim sederajat dengan kalian dan mereka yang kalian anggap lebih rendah berbuka bersama dengan komunitasnya yang kalian kelompokkan atas dasar kemalangan mereka, ketidakberuntungan hidup mereka sehingga menjadi komoditas padahal tak lebih sebagai alasan memuaskan nafsu kesombongan kalian? Padahal seharusnya merekalah yang menjadi pemeran utama dari sandiwara nggak mutu yang kalian ciptakan ini bukan sebagai pemain figuran sedang kalian sibuk berakting memamerkan taring kalian di banyak meja makan dalam satu acara, satu ustadz yang memimpin doa dengan pengeras suara sehingga apapun yang dikeluarkan dari mulutnya bisa didengarkan semua orang satu gedung meski berbeda ruang agar lebih mirip acara kepedulian terhadap sesama bermerk kebersamaan atas moment ramadhan.
Bukan main, kemalangan sudah menjadi alternatif hiburan buat kalian sekarang. Kegembiraan semu yang tidak seberapa orang-orang malang ini peroleh telah menjadi perangsang nafsu makan kalian. Saya sendiri sudah tak tahu apakah harus sedih ataukah malah senang. Sedih karena melihat anak-anak yatim yang lucu-lucu dari panti asuhan, pondok pesantren, anak-anak jalanan yang kurang makan sudah menjadi komoditas murahan. Atau malah senang karena mengetahui kalian sudah tak lagi doyan makan sehingga harus rela membuat panggung sehebat itu tiap kali ingin menstimulasi air liur kalian. Benar-benar sakit kalian!
Dalam mobil di perjalanan pulang padahal sandiwara belum selesai digelar. Kami masih saja tertawa mengingat kebodohan yang sudah kami lakukan. Kebodohan yang membuat kami malah bersyukur karena selamat tidak bersama kalian tapi malah membuat kami berada diantara orang-orang yang menjadi komoditas kalian untuk sekedar mengantri makanan dalam kardus dan segelas air mineral. Beruntung karena kami masih bisa makan dengan lahap bersama anak-anak yatim, gelandangan yang kelaparan seperti rasa perut kami yang keroncongan karena puasa seharian sedangkan kalian di lain ruang dengan menu lengkap membangkitkan selera di atas banyak meja prasmanan, pudding, cocktail aneka ragam buah yang tak kalian habiskan. Padahal betapa senangnya jika anak-anak ini dalam sekali dalam hidupnya bisa merasakan juga, mencicipi apa yang bisa kalian makan.
Bukan main memang kalian, untuk kepentingan yang kalian ingin peroleh saja sudah enggan untuk mengalah. Kami hanya bisa mengelus dada sambil bilang, “kasihan anak yatim tak bisa makan pudding, kasihan juga gelandangan karena tak sempat mencicipi es buah kalian”.
Bukan main memang kalian…. !





Kalau yang ngelakuin itu sebuah perusahaan .. itu merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang nota bene memang ditujukan untuk “mendongkrak” citra perusahaan. Hal ini tidak saja dilakukan dalam berbuka puasa. Tapi juga membantu penanggulangan bencana alam, membagi2kan bea siswa dlsbnya.
Nah, kalau yang melakukan itu atas nama individu .. kembali ke niat individunya masing2 .. hanya Allah Yang Maha Tahu ..
Saran nih buat Herdy .. hindari su’udzon .. apalagi sedang puasa kan? hehehe
@ bang Erander
Betul sih bang, memang. Hanya saja saya merasa nggak adil aja, nggak setuju dengan caranya. Bisa jadi hal itu bentuk dari CSR. Namun saya kan jadi bertanya, acara itu buat siapa sih? Menjamu banyak kolega dalam bentuk buka puasa bersama dengan menu istimewa dengan figuran kaum dhuafa dengan menu seadanya ataukah menjamu kaum dhuafa, bersama2 mengajak kolega berbaur dengan mereka dengan harapan membentuk respek kolega? Menurut abang, dari 2 hal itu mana yang akan membuat abang respek? Lagipula ketelen kah bang, meski makanan yang abang santap begitu wahnya, sedang abang tau saat itu ada bersama abang orang2 yang kurang beruntung jika dibanding dengan abang, makan seadanya sedang acara itu harusnya buat mereka?
*Terima kasih sudah mengingatkan agar tidak su’udzon*
betul itu betul…
betul dalam artian bahwa apapun alasannya menjual kaum kecil sebagai komoditas untuk menjaring rekanan adalah salah…
hanya dilirik ketika sedang dibutuhkan, dengan hanya beberapa senyuman yang dibeli oleh para bos2 besar itu…trus ditampang dikoran2 ato di media lainnya, nah tinggal nunggu kepopuleran dia atas jasa yang katanya “peduli sesama”.
Abang malah baru tahu .. kalo ada perusahaan seperti yang Herdi katakan itu. Mereka makan dengan istimewa, sementara kaum dhuafa makan dengan menu seadanya. Wah wah .. itu amat memprihatinkan. Patut dipertanyakan niat mereka mengundang buka puasa bersama tersebut.
Seharusnya kaum dhuafa yang makan makanan istimewa, mereka makan makanan seadanya. Biar mereka memiliki empati. Terlepas dari apapun niat mereka, tetap harus kita hargai .. hanya saja, kita juga tetap mengingatkan mereka.
Seandainya Herdy pernah makan bareng dengan abang .. pasti Herdy tahu sikap abang tentang kaum dhuafa.
@ mas Extrem
Setuju mas, kebangetan banget. Nggak sopan ituh.
@ mba Liezmaya
Walah, pedesan commentnya nih daripada tulisannya. Saya yakin si bos2 itu pada merah kupingnya. Eya, comment mba Liezmaya ini barusan saya selametin dari perangkap akismet lho. Mungkin oleh akismet comment mba terlalu provokatif coz dianggapnya spam.. he
@ bang Erander
Ini dia yang saya maksud. Bang Eby dah menterjemahkan dgn tepat. “Empati”. Kayaknya dah jadi barang antik aja. Apa betul kita udah jadi masyarakat yang pada egois semua? Padahal islam sendiri mengajarkan untuk nggak egois, contoh kecil zakat fitrah yang sebentar mo kita tunaikan, bukankah kita diharuskan menzakatkan beras atau uang sebesar yang biasanya kita makan? Artinya biar mereka yang kurang beruntung dari kita juga bisa ngerasain apa yang biasa kita makan. Betul begitu kah?
Seharusnya seperti itu .. tapi faktanya, dilapangan - atas nama kepraktisan - semua dipukul rata Rp.5.000,- / kg. Ga peduli kita makan beras yang harganya berapa. Atau nanti uangnya dibelikan apa, “sepertinya” orang2 ga peduli.
Abang lebih suka fitrah dengan jenis beras yang abang makan. Kalau pun beras itu tidak ada dan diganti dengan uang, abang lebih memilih membayar seharga beras yang abang makan. Bukan mengikuti harga yang dipatok sama rata itu.
Gara2 pendapat abang tersebut, sempat berdebat segit dengan teman yang jebolan pesantren yang pro dengan zakat fitrah dibayar dengan uang. Wah .. stres deh. Untung debatnya usai buka puasa hehehe
aha………, Celakalah… celakalah….
memanfaatkan anak yatim dan orang miskin
celakalah………….!!!!!!!!!!!!!!!
Pendusta… Mereka para pendusta agama, Her.
Wajah yang sama juga ada di sini, di Banda Aceh. Bukan hanya di kalangan perusahaan, aku malah menemukannya di kumpulan mahasiswa.
Mengundang anak-anak yatim dari panti asuhan, lalu disediakan ruangan, dengan makanan yang “waaahhh!” di mata anak-anak yatim itu, sementara di meja mahasiswa-mahasiswa itu makanan yang “sederhana di mata mereka” tapi “waaaahhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!” daripada di meja ruangan sebelah.
Lalu apa? Habis kenyang makan-minum, mahasiswanya cekikikan dan mulai jelalatan mata buat pasang aksi pasang gaya. Berkencan lah… Bah!
Anak yatim? Urusan panitia sama seorang anak mushala kampus yang keteteran sendiri. Aku cuma bisa ngajak mereka ngobrol-ngobrol dan bercerita, sementara hati panas liat itu mahasiswa-mahasiswa kampret!
*ngomel2 mumpung sudah buka puasa*
Kenapa begitu? Ah…
waduh rame banget diskusinya. no commnt deh…..
Ironis ya lex
*ngelus dada*
dalam bhs jaman dulu.. ini kali yah, yg disebut riya’?
ups, kok nggak ada update rehat ngeblog ya
waduh lom apdet juga mas? ato pudingnya masih banyak? hehe lebaran dah kelewat atuh!
oya Makaish dah nyelametin koment saya, Alhamdulillah sekarang setelah lebaran dah maaf2an dengan bapak Aksimet, jadi gak kejaring lagi kesana hahaha
… dunia bukanlah tempat di mana keadilan selalu tegak.
mungkin karena itulah, agama bercerita, di seberang sana ada surga atau neraka.
*ngecek kalender….masih bulan puasa yak ???
woalaaaahh postingan bulan september toh hikhik
ya sudahlah, pasti anak2x yatim tsb akan dapat rejeki dari yg laen. atau mungkin saja, hari itu berbukanya ama kolega, lusanya mereka berbuka ama anak yatim/jalanan
Yang pasti anak-anak ini adalah bagian dari napas kita mas …
-Ade-
numpang bersedih…
Ternyata bukan ular saja yang bisa bermua dua… manusia bahakn bisa bermuaka dua tiga empat dst…. manuisia selalu menarik… anak yatim pun dibuat keki jadinya…
Lama menghilang….
Hahahaha begitulah kehidupan Kang. Kerugian (penderitaan) suatu pihak bisa menjadi keuntungan bagi pihak yang lain …
Masuk jalur Sampeyan, bersilaturrahim menaguk makna. Salam.
kemiskinan emang sekarang jadi komoditas baru..bisa diekspor lagi..