You are currently browsing the monthly archive for Juli 2008.
Lagi-lagi tulisan ini terinspirasi atas bincang-bincang sebelumnya dengan salah seorang pelanggan. Bahwa apapun yang bernama trade mark sebenarnya bisa dikondisikan nilainya sesuai kebutuhan dan orang tidak akan pernah protes. Apakah itu yang bernama product tertentu maupun personal brand yang berkonotasi bahwa tiap individu akan mempunyai value tersendiri meski dengan positioning yang sama dalam satu institusi sesuai dengan talenta, kemampuan dan kecakapannya. Memang kelihatannya sangat conditional dan susah untuk diimplementasikan secara general. Namun paling tidak usaha untuk mendongkrak nilai customer terhadap product seharusnya terus dicoba sehingga terhindar dari sengitnya perang harga.
Dalam hal-hal yang conditional dan sudah umum dimana Aqua botol ukuran sedang yang keluar dari pabrik dengan harga yang sama namun akan berbeda nilai belinya antara Rp. 2.500 an di kios kaki lima, Rp. 5.000 an di cafe-cafe dan Rp. 12.000 an di hotel-hotel kelas atas tentunya bisa menjadi contoh. Ternyata make immense value itu sangatlah mungkin dan orang tak akan pernah protes dan menawar. Kita tinggal memposisikan akan masuk target market yang seperti apa, mengemas suasana, tempat juga pelayanan yang lain daripada yang lain dan product value itu akan ikut dengan sendirinya. Demikian juga halnya dalam transportation product, kenapa ada orang-orang yang tetap saja memakai kereta api kelas-kelas executive padahal tujuannya sama sedang ticket price nya jauh berbeda berkali lipat dibandingkan kereta api kelas ekonomi juga bisnis dan bahkan selalu menjadi prioritas pilihan.
Berdasar dari penyampaian diatas sebenarnya tidak ada alasan buat kita untuk tidak terus survive dan selalu merebut hati pelanggan. Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan agar brand image itu tidak menjadi rusak dan pelanggan tetap loyal. Harga yang murah ternyata tak selamanya bisa menggoyahkan setled condition bagi product yang didukung oleh pelayanan, kemudahan, ketersedian dan layanan after sales yang prima. Hal-hal kecil yang tidak terpikirkan misal yang dilakukan oleh salah satu pemasok alat berat terbesar di INCO Soroako yang menjadikan ajang pertandingan Tenis dengan TR****DO CUP nya sebagai sebuah tradisi tahunan buat karyawan INCO Soroako sendiri maupun masyarakat umum sekitar ternyata telah menjadikan brand image product yang mereka gawangi begitu exist dan tidak tergoyahkan. Mungkin buat pelanggan sudah tidak menjadi pertimbangan lagi dengan qualitas product itu sendiri karena memang sudah terbukti, namun coba silahkan tanya kepada mereka kenapa tetap loyal untuk memakai product tersebut pasti jawabnya cuma berdasar sikap sentimentil yang kadang tidak masuk diakal.. mempertahankan dan tidak mau kehilangan atas tradisi kompetisi tahunan tersebut.
Tetap saja hal ini adalah sekedar contoh dan setiap kita pastinya memiliki strategi-strategi yang kita anggap bisa mencover setiap kondisi dan keadaan market yang kita masuki. Tapi paling tidak sebagai sebuah usaha agar nilai suatu product itu menjadi sangat tingginya apa yang sudah dilakukan oleh siapapun pantas untuk dijadikan inspirasi dan stimulant buat kita menciptakan strategi yang lain dan tetap mampu merebut hati pelanggan. Terkadang saya menjadi sangat masgul jika mengetahui ada perusahaan yang terlalu pelit bahkan untuk sekedar memberikan training-training pengembangan kepribadian mungkin, selling technique atau sejenisnya kepada para sales force, product support padahal sebenarnya merekalah ujung tombak dan setiap hari bergaul dengan dengan pelanggan. Citra product dan perusahaan ada dalam penyampaian dan perilaku mereka kepada pelanggan. Memang hal itu bisa dipelajari sendiri secara otodidak namun seberapa efektif, sedang tidak semuanya mau belajar untuk mengembangkan diri dengan sendirinya.
Yah, apapun bisa kita lakukan untuk mendongkrak nilai product dan tetap merebut hati pelaggan. Sebuah pertanyaan yang mendasar mungkin, apa yang yang kita butuhkan nih? Loyalitas pelanggan juga merebut hati new customer bukan? Untuk apa? Agar kita tetap provit juga kebutuhan pelanggan bisa kita cover. Nah tentunya dari situ make immense value menjadi sangat logis untuk selalu kita usahakan. Bagaimana caranya, paling tidak hal ini akan menjadi pekerjaan rumah yang konsisten harus kita pikirkan.
Disclaimer :
Penulis bukan pakar marketing yang kebetulan terpanggil menjadi pelaku marketing. Penulis akan sangat berterima kasih jika pembaca sudi meninggalkan komentar berupa saran ataupun sanggahan dengan tujuan perbaikan isi tulisan. Tag “Sok Marketer” adalah bukan rubrik konsultasi marketing, maka penulis tidak melayani tanya jawab perihal marketing dan hanya bermaksud berbagi pengalamannya melalui tulisan atas perjalanannya sebagi pelaku marketing.












Komentator