You are currently browsing the monthly archive for Agustus 2008.
Malu dan takut karena sebuah kegagalan diakui atau tidak sudah terlalu lama mengungkung dan menjadi dinding pembatas untuk maju bagi kebanyakan orang. Cara berpikir seperti itu sebenarnyalah yang menjadikan tindakan kontra produktif makin tumbuh subur dan sangat merugikan. Kebiasaan menyimpan perasaan malu dan takut karena gagal biasanya dipicu oleh faktor internal yakni self esteem yang rendah. Hal ini semakin menjadi-jadi karena banyak dipengaruhi oleh pemahaman kebanyakan masyarakat kita yang sempit menyimpulkan arti berusaha sehingga memandang kegagalan itu seperti layaknya sebuah dosa yang harus dihindari dan harus disembunyikan rapat-rapat. Sehingga wajar jika kebanyakan orang masih tetap menyimpan perasaan takut dan malu untuk gagal karena kekuatiran tidak akan ada tempat lagi buat dirinya. Saat ini tiba waktunya bagi kita untuk mendobraknya, cukup mendobraknya saja, tidak perlu dihancurkan. Karena tetap saja kita memerlukan perasaan takut dan malu sebagai action controlling agar setiap tindakan kita tetap terarah dan tidak malah membahayakan.
Segala hal yang inspiring dan opened way of thinking yang diberikan rutin oleh atasan kepada bawahan misalnya, sebenarnya sangat efektif untuk menumbuhkan penghargaan atas diri setiap bawahannya. Akan sangat terasa perbedaannya jika hal-hal yang inspiring itu selalu diberikan oleh atasan kepada bawahan daripada yang tidak. Semangat berkompetisi dan produktivity yang tinggi juga sehat akan sangat jelas terlihat dalam kondisi ini karena siapapun tetap akan mendukung disaat siapapun mengalami kegagalan. Menyamakan persepsi atas kegagalan dan keberhasilan itu membuat siapapun percaya diri atas potensi yang dimiliki karenanya tidak ada satupun yang merasa paling baik dan lebih hebat dari lainnya karena siapapun mempunyai kemungkinan untuk berhasil dan gagal. Disinilah sebenarnya akan tumbuh kemampuan bagi siapapun untuk menyikapi kegagalan dengan ksatria dan menyikapi kesuksesan secara elegant.
Saya sempat terkesan dengan seorang relasi atas usahanya mengirimkan artikel yang inspiring buat bawahannya di setiap Senin pagi baik itu yang ditulisnya sendiri ataupun sekedar meneruskan dari artikel yang selalu disebutkan dari mana sumbernya. Suatu kali dia menuliskan tentang bagaimana melampaui keterbatasan yang dipersonifikasikan melalui kutu anjing dan kotak korek api. Dikisahkan bahwa kutu anjing sebenarnya diberi kemampuan bisa melompat 300 lebih tinggi dari tubuhnya sendiri hanya saja karena kotak korek api mengungkungnya, akhirnya dia hanya bisa melompat setinggi kotak korek api. Sekali melompat dia kebentur dinding kotak korek api, melompat lagi dia kebentur lagi, begitu seterusnya. Akhirnya dia sendiri pun terus melegitimasi bahwa hanya setinggi itulah sebenarnya saya bisa melompat dan seterusnya terstruktur pola yang salah dengan ukuran kondisi aman agar tidak terbentur dinding kotak korek api.
Dari cerita tersebut relasi saya itu hanya ingin menyampaikan maksudnya bahwa banyak sekali kotak korek api disekitar kita. Bisa jadi mungkin kotak korek api itu adalah teman kerja yang selalu bilang, “buat apa kerja keras, disiplin dan lain sebagainya toh hal itu tidak lantas membuat kita dipromosikan dan lain sebagainya“. Kemudian diceritakan juga bagaimana orang-orang sukses yang dulunya pernah juga gagal bahkan berkali-kali gagal sampai akhirnya berhasil. Tak heran jika dia mempunyai bawahan yang revolusioner dalam arti welcome terhadap perubahan , kompetitif karena tidak lagi takut gagal dan selalu memberikan terobosan-terobosan dalam pekerjaannya.
Seorang teman yang pernah mempunyai prospek penjualan sebuah produk senilai 14 Miliar setahun hanya untuk 1 customer pernah bercerita kepada saya. Dia berniat melakukan revolusi kecil-kecilan agar setiap orang diperusahaan dia bekerja bisa lebih menghargai proses tidak melulu hasil akhir entah itu kalah atau menang. Dia sudah buang jauh-jauh perasaan malu juga takut seumpama dia gagal. Dia hanya ingin menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang itu menghadapi dan menyikapi kegagalan ataupun kesuksesan secara elegant. Karenanya dia berniat untuk menulis secara berseri usahanya itu dari nol sampai dia sendiri tahu apakah akan gagal ataukah deal dalam prospek itu dan akan dikirimkan untuk buletin perusahaan.
Ini bukan soal kalah dan menang dia bilang. Jika soal kalah dan menang, tentunya saya tak akan mengirimkan tulisan disaat saya sendiri belum tahu apakah akan dapat atau tidak. Karena lebih gampang menuliskan keberhasilan yang sudah kita peroleh daripada sesuatu yang pure based on true story dan saya sendiri belum tahu endingnya. Jika dalam bahasan marketing ada istilah perpindahan nilai atas usaha yang dilakukan, sebenarnya itulah yang sedang ingin saya bagikan – bukan soal ending namun lebih-lebih spirit, motivasi, bagaimana menyikapi kegagalan, bagaimana seharusnya menunjukkan keberhasilan dan ajakan membuang rasa takut dan malu atas kegagalan bagi rekan-rekan. Two thumbs buat teman saya itu …
Takut dan malu jika gagal akan membuat kita pasif, membunuh kretifitas dan potensi yang kita miliki sehingga akan membuat kita tergeser dan tidak akan ada tempat lagi. Saat inilah waktunya bagi kita untuk lebih berani, karena yang lebih penting bagaimana kita menikmati prosesnya dan lupakan mengkuatirkan soal kalah dan menang. Karena seperti yang ditulis oleh salah seorang kawan sesama blogger atas tanggapan yang diberikan blogger lain pada sebuah artikel di weblognya, “Bukankah kemenangan itu hanya sesuatu dan bukan segalanya”.
Benarkah? Tentu sebuah pertanyaan retoris, tidak memerlukan jawaban. Mempertanyakannya mungkin malah akan dituduh sebagai penghinaan terhadap kedaulatan negeri tercinta ini. Tapi anehnya, setiap kali pula pernyataaan itu seringkali kita dengar dan sengaja diungkapkan semata-mata atas sikap ironisme bahkan satire atas kenyataan pahit yang banyak menimpa, tidak tertangani dan sedang terjadi di tanah air yang katanya sudah merdeka ini. Coba kita tengok saudara-saudara kita yang menjadi korban lumpur Lapindo, apakah dengan kondisi yang menimpa mereka saat ini akan berteriak kita sudah merdeka, meski disaat yang sama di hari ini dimana-mana hingar bingar suara drum band menandai sedang dirayakannya hari kemerdekaan. Tiga tahun yang lalu mungkin… disaat lumpur belum memporak-porandakan kehidupan multi dimensi mereka – ekonomi, sosial dan kultural. Jengah… yah bisa jadi mereka pun sudah jengah, sisa menyerahkan semuanya kepada nasib yang akan membawa mereka entah kemana.
Ada sebuah lagu keren dari you tube, bukan lagu wajib nasional atau perjuangan, tapi cukup patriotik juga kita dengar.
“Kita jengah dengarkan banyak alasan… ! Kita bosan dengarkan cerita….”
nJrit, betul juga nih grup band. Apalagi lirik-lirik selanjutnya ini.
“Bagaimana tidak bosan, karena hanya bisa bicara… ternyata! Tak pernah ada bukti yang langsung terasa & nyata untuk kita. Kita muak! Semua! Melihat akibatnya. Ternyata tetap menjadi… upeti di sana-sini, korupsi menggila lagi. Kita jadi saksi, teriak orang besar bicara. Ternyata hanya bisa memperpanas suasana, saling rebut singgasana….”
Ekspresi sah-sah saja, implementasi sebuah kemerdekaan tentunya. Tapi bagaimana dengan korupsi? Semacam ekspresi atas sebentuk kemerdekaan pula kah? Korupsi saya menyebutkan sebagai bagian dari bentuk kapitalisme juga, yang berbahaya tentunya yang bersosialisasi sampai ke akar sendi-sendi perspektif berkehidupan masyarakat. Tidak ada yang lebih penting kecuali keuntungan dan kemakmuran dirinya semata meski banyak orang akan menderita. Dimana dalam konteks apapun yang kuat layak semena-mena menindas yang lemah. Yang penting kemiskinan adalah bukan miliknya. Bukan sebuah kondisi yang harus dicarikan solusinya melainkan menjadi sebuah tontonan fenomena seleksi evolusi yang alamiah dimana sudah seharusnyalah yang paling kuat yang bertahan sebagai pemenang. Salah sendiri miskin, tidak ada salahnya juga kan dengan korupsi? Sinting…
Tahun ini bahkan wajah negeri ini sudah coreng moreng atas ulah para oknum wakil rakyat bahkan sampai kepada penegak hukum dan aparatur negara, padahal kemaslahatan seluruh rakyat negeri ini berada pada pundaknya. Sex, suap & korupsi bagaimana mungkin ratusan juta rakyat miskin di negeri ini menggantungkan perbaikan penghidupannya.. sepertinya sedang menjadi trend di parlemen. Tercatat nama Al Amin Nur nasution, Max Moein, dll. Banyak keganjilan yang terjadi di negeri ini. Dimana koruptor menjadi selebriti, eks mucikari yang menjadi terpidana mati menjadi selebriti, psikopat penjagal menjadi selebriti. Benarkah untuk menjadi selebriti di negeri ini begitu susah & kompetitifnya sehingga mesti mencatatkan sesuatu yang aneh-aneh baru bisa memperoleh pengakuan sebagai selebriti? Ironis…
Negeri ini tidak butuh selebriti namun kita semua yang melakukan apapun yang dapat kita sumbangkan untuknya dengan hati. Negeri ini memimpikan kita semua sebagai empunya untuk menjaga dan merasa memiliki. Tidak lebih! Aneh, bukan hanya sekedar usulan stempel EK (Exs Koruptor) pada KTP para koruptor dan baju seragam koruptor yang harus di blow up. Sedang hal yang prinsip malah tidak tersentuh, hukuman seberat-beratnya bagi para koruptor yang harus ditegakkan biar eks maupun calon-calon koruptor jadi jera, tidak bisa tidak! Atau memang betul negeri ini sedang bersedih, sehingga diperlukan orang-orang yang tetap bisa menghiburnya dan bisa membuatnya tergelak?
Mungkin, yah mungkin saja. Tentunya yang pasti, siapapun yang merasa memiliki negeri kita tercinta ini acungkan jari tinggi-tinggi, tak akan pernah menodai arti perjuangan yang sudah dengan jerih payah, lautan darah, tak terhitung nyawa dan air mata perjuangkan oleh para pendahulu kita. Untuk kejayaan Indonesia Raya, to be or not to be, hanya dua hal itu saja yang akan terjadi atas apa yang sedang kita lakukan untuknya. Sebuah renungan untuk kita semua, apakah kita akan menyebut para pahlawan yang gugur di medan perang sebagai para pecundang? Tidak bukan? Korupsi, penegakan hukum, separatisme, demokratisasi, stabilitas ekonomi dan politik tentunya adalah tantangan yang harus diselesaikan. Jika saat ini negeri ini masih dirundung duka karena masih belum mampu mengatasinya. Pastinya suatu saat nanti akan bisa juga. Karena bukan seberapa keras & bertubinya pukulan yang sanggup negeri ini terima namun yang lebih penting adalah sekeras apapun dan berapa banyak pukulan yang negeri ini terima, Indonesia tercinta ini adalah negeri yang bisa bangkit kembali.
DIRGAHAYU INDONESIAKU












Komentator