Benarkah? Tentu sebuah pertanyaan retoris, tidak memerlukan jawaban. Mempertanyakannya mungkin malah akan dituduh sebagai penghinaan terhadap kedaulatan negeri tercinta ini. Tapi anehnya, setiap kali pula pernyataaan itu seringkali kita dengar dan sengaja diungkapkan semata-mata atas sikap ironisme bahkan satire atas kenyataan pahit yang banyak menimpa, tidak tertangani dan sedang terjadi di tanah air yang katanya sudah merdeka ini. Coba kita tengok saudara-saudara kita yang menjadi korban lumpur Lapindo, apakah dengan kondisi yang menimpa mereka saat ini akan berteriak kita sudah merdeka, meski disaat yang sama di hari ini dimana-mana hingar bingar suara drum band menandai sedang dirayakannya hari kemerdekaan. Tiga tahun yang lalu mungkin… disaat lumpur belum memporak-porandakan kehidupan multi dimensi mereka – ekonomi, sosial dan kultural. Jengah… yah bisa jadi mereka pun sudah jengah, sisa menyerahkan semuanya kepada nasib yang akan membawa mereka entah kemana.
Ada sebuah lagu keren dari you tube, bukan lagu wajib nasional atau perjuangan, tapi cukup patriotik juga kita dengar.
“Kita jengah dengarkan banyak alasan… ! Kita bosan dengarkan cerita….”
nJrit, betul juga nih grup band. Apalagi lirik-lirik selanjutnya ini.
“Bagaimana tidak bosan, karena hanya bisa bicara… ternyata! Tak pernah ada bukti yang langsung terasa & nyata untuk kita. Kita muak! Semua! Melihat akibatnya. Ternyata tetap menjadi… upeti di sana-sini, korupsi menggila lagi. Kita jadi saksi, teriak orang besar bicara. Ternyata hanya bisa memperpanas suasana, saling rebut singgasana….”
Ekspresi sah-sah saja, implementasi sebuah kemerdekaan tentunya. Tapi bagaimana dengan korupsi? Semacam ekspresi atas sebentuk kemerdekaan pula kah? Korupsi saya menyebutkan sebagai bagian dari bentuk kapitalisme juga, yang berbahaya tentunya yang bersosialisasi sampai ke akar sendi-sendi perspektif berkehidupan masyarakat. Tidak ada yang lebih penting kecuali keuntungan dan kemakmuran dirinya semata meski banyak orang akan menderita. Dimana dalam konteks apapun yang kuat layak semena-mena menindas yang lemah. Yang penting kemiskinan adalah bukan miliknya. Bukan sebuah kondisi yang harus dicarikan solusinya melainkan menjadi sebuah tontonan fenomena seleksi evolusi yang alamiah dimana sudah seharusnyalah yang paling kuat yang bertahan sebagai pemenang. Salah sendiri miskin, tidak ada salahnya juga kan dengan korupsi? Sinting…
Tahun ini bahkan wajah negeri ini sudah coreng moreng atas ulah para oknum wakil rakyat bahkan sampai kepada penegak hukum dan aparatur negara, padahal kemaslahatan seluruh rakyat negeri ini berada pada pundaknya. Sex, suap & korupsi bagaimana mungkin ratusan juta rakyat miskin di negeri ini menggantungkan perbaikan penghidupannya.. sepertinya sedang menjadi trend di parlemen. Tercatat nama Al Amin Nur nasution, Max Moein, dll. Banyak keganjilan yang terjadi di negeri ini. Dimana koruptor menjadi selebriti, eks mucikari yang menjadi terpidana mati menjadi selebriti, psikopat penjagal menjadi selebriti. Benarkah untuk menjadi selebriti di negeri ini begitu susah & kompetitifnya sehingga mesti mencatatkan sesuatu yang aneh-aneh baru bisa memperoleh pengakuan sebagai selebriti? Ironis…
Negeri ini tidak butuh selebriti namun kita semua yang melakukan apapun yang dapat kita sumbangkan untuknya dengan hati. Negeri ini memimpikan kita semua sebagai empunya untuk menjaga dan merasa memiliki. Tidak lebih! Aneh, bukan hanya sekedar usulan stempel EK (Exs Koruptor) pada KTP para koruptor dan baju seragam koruptor yang harus di blow up. Sedang hal yang prinsip malah tidak tersentuh, hukuman seberat-beratnya bagi para koruptor yang harus ditegakkan biar eks maupun calon-calon koruptor jadi jera, tidak bisa tidak! Atau memang betul negeri ini sedang bersedih, sehingga diperlukan orang-orang yang tetap bisa menghiburnya dan bisa membuatnya tergelak?
Mungkin, yah mungkin saja. Tentunya yang pasti, siapapun yang merasa memiliki negeri kita tercinta ini acungkan jari tinggi-tinggi, tak akan pernah menodai arti perjuangan yang sudah dengan jerih payah, lautan darah, tak terhitung nyawa dan air mata perjuangkan oleh para pendahulu kita. Untuk kejayaan Indonesia Raya, to be or not to be, hanya dua hal itu saja yang akan terjadi atas apa yang sedang kita lakukan untuknya. Sebuah renungan untuk kita semua, apakah kita akan menyebut para pahlawan yang gugur di medan perang sebagai para pecundang? Tidak bukan? Korupsi, penegakan hukum, separatisme, demokratisasi, stabilitas ekonomi dan politik tentunya adalah tantangan yang harus diselesaikan. Jika saat ini negeri ini masih dirundung duka karena masih belum mampu mengatasinya. Pastinya suatu saat nanti akan bisa juga. Karena bukan seberapa keras & bertubinya pukulan yang sanggup negeri ini terima namun yang lebih penting adalah sekeras apapun dan berapa banyak pukulan yang negeri ini terima, Indonesia tercinta ini adalah negeri yang bisa bangkit kembali.
DIRGAHAYU INDONESIAKU












8 comments
Comments feed for this article
Agustus 18, 2008 pada 5:34 pm
hanggadamai
apa yang sudah kuberikan ya??
*nihil*
Agustus 19, 2008 pada 5:31 pm
aRuL
dirgahayu bangsaku.
semua punya ekspresi tersendiri dalam mengartikan kemerdekaan
Agustus 21, 2008 pada 3:59 am
Rita
Kebebasan yang musti diraih sekarang ini adalah kebebasan dari “hawa nafsu”. Kalalu setiap orang memiliki niat ini bisa dipastikan penyelewengan terhadap kebenaran dapat di minimalis kalau perlu di bersihkan. Tentu niat saja gak cukup harus debarengi dengan ikhtiar untuk merubah nasib bangsa ini entah itu dengan belajar sungguh2, menata ahlak kita, menjadi seorang ahli yang handal dan jujur dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan, mendidik anak2 kita agar berperilaku baik berahlak mulia dan menanamkan sifat kejujuran….. ini sebagian hal2 yang dapat dilakukan untuk menuju seperti yang kita idamkan, Negara maju, adil makmur sejahteran secara material dan spiritual
Agustus 21, 2008 pada 8:14 am
erander
Kemaren, abang mendengarkan satu komentar yang bagus di Metro TV. Begini kira² isi komentarnya : “Bangsa ini, suka meniru. Sehingga kita membutuhkan figur buat ditiru. Kita memerlukan keteladanan.” saya jadi teringat, bagaimana kita mudah sekali mengikuti trend (latah) yang sedang terjadi.
Ketika banyak artis di belahan bumi sana yang menjadi politisi. Kita juga ikut²an. Ketika seorang pemimpin korupsi, maka anak buahnya tidak segan² juga untuk korupsi. Caranya malah gampang. Dengan menjual nama sang bos.
Jadi .. sebenarnya memang bukan hanya retorika atau kata². Kita hanya perlu seorang yang memberikan teladan buat negeri ini. *sebenarnya sih ada, tapi kalah pamor*
Agustus 26, 2008 pada 2:09 pm
masmoemet
wah lagunya keren …
Agustus 26, 2008 pada 8:21 pm
nadia febina
iyaah.. kasus lapindo itu bikin emosi… *hhhhh…*
Agustus 31, 2008 pada 3:01 am
kurtubi
Lapindo itu alami meski harus ditangani secara manusiawi bukan alami lagi.
Tapi saya menyoroti kemerdekaan ini– bukan pesimis ya bos — para koruptor itu serasa “merdeka” yah, makin menjadi-jadi bukannya makin surut tapi masih meraja lela dan tambah besar padahal dari zaman Pak Karno hingga Sekarang pemburu korupsi itu atau “KPK” itu ada tapi yaa makin canggih caranya… Bahkan menulari ke bawah2nya.
Jadi apa yang saya berikan pada negara tanyakan pada koruptornya…
November 1, 2008 pada 8:28 am
Elfizon Anwar
MERDEKA?
Kalau mau lihat rakyat kita belum merdeka?
lihatlah waktu mereka berebut-rebutan di gerebek sawalan atau muludan!
apakah berkahnya???