You are currently browsing herdy's articles.

Walah, saya bingung juga nih kalo pingpong model begini. Kakaka… Kalo pemainnya aja kayak gini, gimana suporternya yak? Hoooi mas, kalo masih ngeyel, sun aja sudah. Kayaknya boleh juga tuh.. he.

(refleksi satu tahun lumpur laknat lapindo brantas)

Sepiring nasi dihadapanku baru beberapa suapan masuk dalam perut ketika televisi tadi menayangkan peringatan satu tahun muncratnya lumpur lapindo brantas. Yah hari ini, ku lihat beberapa ratus orang dari Porong, Jambon, Tanggulangin… berbondong-bondong meninggalkan tenda-tenda penampungan menuntut hak mereka yang terampas. Mereka menjerit entah siapa yang mendengar, mereka meratap entah kepada siapa harus menghiba, mereka menangis entah kepada siapa akan datang mengusap. Kenapa harus seperti ini sesalku.. mereka tidak pantas seperti ini gundahku. Toh mereka menuntut haknya gusarku. Hak yang akan tetap menjadi miliknya jika lumpur laknat itu tak datang mengubang.

 

Volume luapan antara 125.000 – 150.000 m kubik per hari benar-benar mimpi buruk dalam keterjagaan. Sungguh-sungguh memporakporandakan impian manis dari asa yang memenuhi atas 10 hektar kehidupan yang harus menyingkir saban harinya. Sudah 27.000.000.000.000 lenyap tak berbekas, padahal setiap sen dibangun atas senyum dikala pagi, keletihan sepanjang hari, keringat yang masih menetes, lengket dibadan mengendap di sore hari namun menebarkan aroma kehangatan bagi orang tua, anak istri dalam istana mereka sebelum semuanya terendam oleh lumpur layaknya kubangan kerbau peliharaan mereka.

 

7000 an hektar binasa sudah, seiring tak terdengarnya lagi suara anak-anak yang riuh bermain gobak sodor disela-sela jam istirahat sekolah. Digantikan suara gemuruh alat-alat berat dan mesin generator dari pompa penyedot lumpur. 30 an lebih pabrik tulang punggung sendi-sendi perekonomian Sidoarjo gulung tikar. Ribuan karyawan menganggur berbagi jengkal menghuni tenda-tenda penampungan dan terkadang harus makan nasi lauk basi ketika masih berupa jatah makan.

 

Di mana petinggi-petinggi lapindo brantas, di mana wakil-wakil rakyat, pejabat-pejabat negara, tidakkah melihat ini? Di mana hati nurani kalian? Apakah hati kalian sudah membatu atau malah kalian terlahir dari batu bukan atas kasih sayang seorang ibu? Ketika masih aku lihat siang itu ada seorang ibu menangis, meratapi hidupnya, menyesali nasibnya karena sudah kehilangan semuanya. Suami meninggal karena stress beberapa hari setelah mengikuti demonstrasi sedang dia harus hidup, anak-anaknya masih harus terus melanjutkan hidup sedang semua harta benda tak tersisa, pekerjaan tdak punya. Kepada siapa ia harus menggantungkan kehidupannya? Seperti ketika itu aku langsung teringat ibuku, apakah kalian tidak melihat ibu kalian di sosok perempuan itu? Bayangkan jika itu adalah ibu kalian? Tidakkah kalian pernah merasakan kesedihan? Atau bisa jadi sebaliknya, kalian tak pernah tahu kebahagiaan itu seperti apa bentuknya sehingga kepedihan ibu kalian saja tidak bisa kalian rasakan.

 

Seperti ketika aku melihat anak-anak seusia Si Kancil bidadari kecil yang aku sayang berpeluh keringat karena terik siang tadi. Tidakkah kau melihat itu anak-anakmu? Tidakkah kalian pernah membayangkan jika yang berdiri disana meratap, mengucap shalawat badar adalah kalian. Dan kalian melihat muka anakmu merah kepanasan, perut keroncongan menahan haus dan lapar. Aku tidak hanya akan menitikkan air mata tapi akan membunuh diriku jika itu adalah dia anakku yang kusayang.

 

Setahun bagi kalian mungkin adalah waktu yang singkat, setiap hari kalian menyesali kenapa waktu cepat berlaju lewat. Tapi pernahkah kalian membayangkan, setahun bagi korban lumpur laknat ibarat seabad. Dan siang itu aku masih melihat orang-orang menolak relokasi dan menuntut 100% pengembalian hak atas rumah dan tanah yang baru 20% engkau tunaikan. Sepiring nasi sudah dihadapan, aku cepat-cepat menghabiskan meski sudah berasa kesedihan. Tetap aku paksakan untuk terus menelan meski kadang harus tersekat ditenggorokan. Aku tetap memaksakan tanpa punya keinginan tidak menghabiskan… karena aku ingat perut keroncongan orang-orang ditenda penampungan.

Gde Prama pernah bilang seperti ini, kebahagiaan itu gak bisa dibeli dengan uang. Kalo kebahagiaan itu bisa dibeli, pastinya orang-orang yang berlimpah uang akan ramai-ramai membelinya. Gak akan ada penderitaan dari dalam rumah mewah. Tapi lihat betapa banyak air mata tercurah malah berasal dalam rumah-rumah mewah. Penderitaan karena perselingkuhan, penderitaan karena anak-anaknya salah arah dan pergaulan……

Lantas,

kebahagiaan itu seperti apa?

Dimana kita mencarinya?

Apakah ada yang tepat mengartikannya?

Menurut siapa?
Mungkin seperti itulah kontroversi tentang arti kebahagiaan. Aneh ya hari gini masih ngomongin kebahagiaan? :D  Tidak masuk akal, tapi bagi saya nggak. Karena apa, setiap bertanya kepada seseorang… tujuan hidup mereka itu ujungnya adalah memperoleh kebahagian. Kerja keras banting tulang agar bahagia, menikah semoga bahagia, bersekolah tinggi-tinggi agar kelak bisa bekerja layak, hidup berkecukupan dan bahagia, apa lagi? Lantas setelah sekian lama dan orang-orang yang saya sebutkan tadi udah kaya, udah mempunyai anak-anak dari hasil pernikahan, udah bekerja dengan sangat layak dan berkecukupan kemudian ditanya lagi, apakah ente sudah bahagia? Mereka menjawab belum! Orang yang aneh bukan?

Kayaknya dah mulai menarik nih  :D
Tidak bermaksud narsis kok hanya menghibur diri sendiri aja. Lagipula saya tak punya cita-cita mati klelep layaknya Narcissus, he. Ok, sebenarnya kebahagiaan itu nggak mengenal kata belum lho. Yang ada juga kita itu bahagia atau nggak. Mutlak nilainya, nggak ada istilah setengah bahagia, nggak ada ungkapan nyaris bahagia. Jadi bentuknya bulat penuh. Persis seperti… ehm! Kok kenyal juga? Iya lah… karena hidup itu kan pasti ada saja cobaannya baik itu penderitaan, kesedihan bahkan kesenangan juga cobaan. Dan orang yang bahagia itu tentunya sama juga kan seperti yang lainnya, tetap mempunyai hati,  yang bisa merasakan sakit dan kecewa. Kenyal itu adalah kemampuan hati kita untuk menerima sekaligus menepis segala cobaan sehingga tetap membuatnya nggak kehilangan kebahagiaan. Begitu maksudnya…

Sebenarnya saya nulis ini karena terinspirasi oleh seseorang. Seseorang yang saya kenal dekat. Seseorang yang saya kagumi karena ketabahan akan penderitaan yang menderanya. Namun ia tetap bersemangat dan nggak mau putus asa. Seorang wanita, cantik… sangat cantik. Pastinya orang-orang mengira ia bahagia karena kecantikannya. Kecantikan yang akan membuat iri bagi siapapun yang melihatnya. Padahal bukan, bukan kecantikan yang membuatnya bahagia, tapi ada sesuatu yang jauh lebih cantik yang membuatnya bahagia meski penderitaan begitu kejam menyiksanya. Hatinya… pengorbanan untuk orang-orang yang dikasihinya.

Dua tahun yang lalu dia didiagnosa menderita penyumbatan pada tuba falopi. Ada kista dan terakhir endometriosis. Sebenarnya keluhannya udah dari semester-semester awal dia kuliah sekitar 7 – 8 tahun yang lalu namun nggak dirasakan. Baru diperiksa sekitar 2 tahun yang lalu karena sakit yang teramat sangat di pinggang dan bagian dalam perutnya. Segala pengobatan udah dicoba bahkan sampai Laparascopi satu setengah tahun yang lalu. Sakitnya belum juga kunjung sembuh. Setiap waktu, setiap malam dia meringis menahan sakit, kadang juga dia menangis jika sakit udah nggak tertahan. Terkadang dia telpon kepada saya ketika sedang menangis menahan sakit, bercerita sekedar untuk melupakan nyeri di dalam perut dan kemeng di pinggangnya. Ketika activitas pekerjaan menyita energi dan pikirannya, keletihan kadang menstimulasi rasa sakitnya. Tapi dia tetap nggak pernah putus asa. Yang terbayang hanya raut muka ayah dan ibunya yang sudah membesarkan dan mengasihinya jika dia menyerah dan berhenti bekerja. Dia takut ketika orang tuanya membutuhkan sesuatu dia tidak bisa membantunya. Ini adalah kebahagiaanku katanya. Bahagia karena melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia.

Dasyat nggak? Dia yang sendirinya menderita, masih memikirkan kebahagiaan orang lain karena itu membuatnya bahagia. Tapi memang benar, kita tidak bisa bahagia sendirian. Bisakah anda bahagia sendirian jika mengetahui orang-orang yang kita sayangi menderita? Saya kira kita semua masih belum gila dan masih memiliki sebentuk hati yang sehat seperti dia. Kita nggak akan pernah bahagia sedang saudara-saudara kita, orang-orang yang kita sayangi menderita.

Jadi kebahagiaan itu seperti apa? Mudah-mudahan mulai sekarang kita udah bisa mengidentifikasikannya. Mungkin jika kita tidak bahagia terus kita bertanya kenapa? Kita tidak perlu lagi melihat jauh-jauh untuk mencari jawabnya. Lihatlah sekeliling kita, anak istri kita, orang tua kita, adik-kakak kita, saudara-saudara kita. Apakah kita sudah benar-benar menyayanginya? Sudah bahagiakah mereka, jika tidak berikan apa yang kita bisa untuk membahagiakannya. Agar kita bahagia karena mengetahui mereka bahagia.

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk kamu dan penderita penyumbatan tuba falopi, kista dan endometriosis dimanapun anda berada)

selamat datang!

Photo Flipbook Slideshow Maker

Google Translate

Banners


Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Arsip

my pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Statistik Blog

  • 32,714 kali dikunjungi

 

Mei 2010
S S R K J S M
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31